INILAH.COM, Jakarta - Pelaksanaan Pilpres 2009 di beberapa wilayah Papua masih tertunda. Kini ada insiden penembakan warga Australia yang juga karyawan PT Freeport Indonesia Drew Nicholas Grant (38). Namun situasi keamanan di Papua masih terkendali untuk digelarnya pilpres.
"Situasi masih dapat dikendalikan. Terbukti hingga kini belum ada permintaan dari Polri untuk pengamanan Pilpres 2009 yang masih tertunda di beberapa wilayah di Papua, menyusul beberapa insiden yang terjadi," kata jubir TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen di Jakarta, Sabtu (11/7).
Sagom menegaskan, TNI khususnya Kodam XVII Cendrawasih telah menyiapkan pasukan untuk membantu kepolisian mengamankan Papua selama Pilpres 2009, hingga ke satuan terkecil.
"Kalaupun masih belum mencukupi, seiring dengan munculnya sejumlah insiden, maka TNI dan Polri tentu sudah memiliki langkah-langkah antisipasi yang sudah disiapkan. Dan, sejauh ini meski ada beberapa insiden, Papua masih terkendali dan Pilpres 2009 di beberapa wilayah di Papua yang masih tertunda siap kami amankan," ujar Sagom.
Untuk mengantisipasi adanya insiden yang mengancam jalannya Pilpres 2009, pemerintah Indonesia telah menutup pintu perbatasan RI-PNG sejak Rabu 8 Juli mulai pukul 00.00 Wita hingga batas waktu yang tidak ditetapkan.
Pada Sabtu 11 Juli pagi terjadi penembakan terhadap Drew Nicholas Grant (38), warga negara Australia. Ia bersama rekannya Lia Madandan, Maju Panjaitan, dan Lukan Jon Biggs dicegat sekelompok orang bersenjata yang menembak mobil mereka saat melintas di Mile 53, areal PT Freeport Indonesia.
Lalu sekitar pukul 11.00 Wita terjadi baku tembak antara aparat TNI-Polri dengan beberapa anggota OPM di distrik Anatowai, Kabupaten Yapen, Papua. Tidak ada korban jiwa, dan aparat TNI-Polri menangkap 3 anggota OPM beserta sejumlah barang bukti berupa beberapa pucuk senjata dan dokumen OPM. [*/sss]