Kamis, 17 Mei 2012 | 04:18 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Golkar Beroposisi, Memang Berani?
Oleh:
web - Senin, 13 Juli 2009 | 09:43 WIB
Perhelatan akbar pesta demokrasi negeri ini sudah mendekati babak akhir. Meskipun hasil pilpres belum ditetapkan oleh KPU, namun berdasar quick count pasangan SBY-Boediono dipastikan unggul.

Keunggulan yang cukup telak yakni sekitar 60% tetap mencerminkan komposisi parpol pendukung koalisi. Hal ini berbanding terbaik dengan perolehan JK-Wiranto yang justru di bawah suara Golkar tanpa koalisi.

Dengan kekalahannya, seharusnya menempatkan Golkar dengan koalisinya sebagai oposisi sesuai kesepakatan koalisi besar yang telah dibangunnya bersama Hanura, PDIP dan Gerindra beberapa waktu lalu.

Namun, perkembangan politik terakhir mengindikasi kemungkinan Golkar masuk dalam pemerintahan dan tidak mengambil peran oposisi.

Mencermati sinyal politik ini, publik kembali akan menonton akrobat politik yang dimainkan Golkar. Kelihaian partai yang telah berkuasa selama 42 tahun dan sarat akan asam garamnya.

Jauh sebelum pencapresan JK, kesiapan Golkar menjadi oposisi pun telah dipertanyakan. Bahkan seorang pengamat politik dalam sebuah dialog di TV pernah menyebut 'Golkar yang selalu konsisten dalam inkonsistensi'. Ini tak lepas dari track record selama ini.

Meskipun Syafi'i Ma'arif berkata: 'JK is the real president', namun perolehan suara yang terus menurun setiap pemilu menunjukkan juga bahwa publik menganggap: 'Golkar is the real looser'. Barangkali Golkar memang harus menjadi oposisi.

Kini rakyat akan menunggu akankah Golkar lulus dalam ujian konsistensi? Partai yang 'berjasa' mengubah Indonesia dari Singa Asia menjadi Tikus Asia ini memang dalam posisi yang cukup sulit. Bila salah langkah, niscaya baginya kiamat sudah dekat.

Widodo
widodo@nhm.co.id
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
ingat
Senin, 13 Juli 2009 | 15:15 WIB
Pada akhirnya masyarakat bisa menilai, mana partai yang haus kekuasaan mana yang tidak. Kasus inkonsistensi Golkar kali ini menunjukan kepada publik bahwa sebagian besar elit partai ini adalah orang2 yang haus akan kekuasaan...
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.