INILAH.COM, Jakarta Situs jejaring sosial Twitter dan pembuatnya diusulkan sebagai penerima penghargaan Nobel perdamaian. Twitter dinilai memiliki peranan penting dalam kekacauan sipil di Iran beberapa waktu lalu.
Usulan Twitter mendapat penghargaan Nobel Pedamaiaan itu diajukan oleh Mark Pfeifle mantan pembantu George W Bush. Pemenang nobel perdamaian sebelumnya adalah termasuk di dalamnya Bunda Teresa, Mikhail Gorbachev, Martin Luther King Jr, Dalai Lama dan Nelson Mandela.
"Saat wartawan diusir dari suatu negara, Twitter menjadi jendela bagi dunia untuk melihat harapan, perjuangan dan malapateka," kata Pfeifle.
"Twitter menjadi meja tugas, wartawan dan producer. Dan karena hal itu, Twitter dan pembuatnya layak dipertimbangkan mendapat penghargaan Nobel perdamaian."
Twitter dikritisi hanya sebagai pembuang waktu, dengan memberitahu kegiatan seseorang menit demi menit maksimum 140 karakter dalam sekali kirim.
Tapi dalam beberapa bulan terakhir, Twitter memiliki peran besar dalam mengungkap peristiwa di Iran dan bisa menjadi agen perubahan.
"Tanpa Twitter, dunia mungkin hanya tahu kandidat yang kalah menuduh penguasa melakukan kecurangan, kata Pfeifle.
Pfeifle juga memberi catatan situs media sosial lain semacam Facebook berhasil menarik 100 ribu pendukung calon presiden Mir Hossein Mousavi.
Saat protes mencapai puncaknya, dalam satu jam ada lebih dari 221.000 tweet dari warga Iran. Dalam satu hari, 3.000 video diupload di YouTube dan 2,2 juta tulisan blog.[ito]