INILAH.COM, Jakarta Usai kekalahan Jusuf Kalla-Wiranto, sepak terjang tokoh senior Golkar makin merajalela. Para analis melihat, Golkar harus dipimpin sosok kuat dalam lobi dan perekrutan kader muda agar terhindar dari politik zombie. Tokoh siapa yang cocok?
Sejauh ini, sepak terjang tiga tokoh Golkar yang dijuluki 'Triple A' (Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, dan Agung Laksono) makin menguat dan pengaruhnya kian merajalela.
Dua sosok di antaranya yakni Aburizal Bakrie dan Akbar Tanjung dinilai sudah terlalu mapan sehingga akan membuat Golkar beku dan lambat berkembang. Sementara Agung Laksono dinilai sosok baru yang menjanjikan dengan lobi-lobi politik yang cukup kuat dan bisa membangun sumber daya baru dari kaum muda.
"Agung Laksono mungkin lebih mudah diterima dibandingkan Akbar dan Aburizal yang diangap sudah terlalu mapan dengan menyandang berbagai latar belakang di masa lalu," kata seorang analis yang enggan disebut namanya.
Pengamat itu menyarankan agar para tokoh Golkar itu menghindari politik zombie yang bisa membuat partai berlambang pohon beringin itu makin tenggelam. Istilah zombie dalam politik ini dipakai akademisi Dr Daniel Sparinga dan Jaleswari Pramodhawardani.
Istilah ini bermakna punya badan berdemokrasi tapi tidak punya nyawa. Pemilu jalan, parpol dan DPR jalan, tapi hasilnya tidak memenuhi ekspektasi rakyat. Korupsi merajalela, otonomi kebablasan, peraturan daerah merefleksikan pemaksaan golongan, eskapisme, jika bukan ekstremisme, terus meningkat.
Golkar bisa tertular demokrasi zombie karena berkarakter penghisapan sumber daya. "Tokoh-tokoh tua itu, mereka-kan sudah pernah menjadi menteri, lalu mau apa lagi? Ini akan yang membuat Golkar tak maju," kata pangamat politik FISIP UI, Prof Dr Ibramsyah.
Golkar pasca kekalahan JK-Win diwarnai desakan gencar percepatan Munaslub. Terutama dimotori kelompok, yang disebut-sebut ingin mengambilalih kepengurusan Golkar dan membawanya ke pangkuan SBY. Terjadi sikut-sikutan berebut jabatan Ketua Umum DPP Partai Golkar.
Sebagai salah satu partai tertua, organisasi di dalam Golkar ternyata masih rapuh. Budaya mengikuti siapa yang berkuasa dan bukan karena pengkaderan masih sangat kental. "Organisasi Golkar kurang modern. Meski sudah berpengalaman," kata Nurhasim, peneliti LIPI.
Golkar tampaknya masih belum lepas dari keinginan berkuasa. Pangkalnya adalah politik dan uang tak bisa dipisahkan dari partai berlambang pohon beringin itu. Tanpa banyak uang, jangan bermimpi memimpin Golkar, kata Ray Rangkuti, pengamat politik.
Seringkali bukan program yang diharapkan sebagian kader dan konstituen, melainkan imbalan uang. Golkar tampaknya harus berhati-hati agar terhindar dari organisasi zombie. Karena nama besar jadi taruhannya.
Kepengurusan baru nanti di Golkar, harus merekrut kader muda yang tangguh dan dibersihkan dari demokrasi zombie agar Golkar tak gulung tikar, kata Ari Bainus, seorang pengamat politik dari Universitas Padjadjaran. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !