INILAH.COM, Jakarta - PT Krakatau Steel (KS) memperkirakan pendapatan pada semester I 2009 merosot sekitar 55 persen dibanding periode sama 2008 karena masih berlanjutnya tren penurunan permintaan baja menyusul krisis keuangan global.
"Tren penurunan permintaan baja masih berlanjut menyusul krisis keungan global," kata Direktur Pemasaran perusahaan Irvan Kamal Hakim, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (16/7).
Menurut Irvan, penurunan permintaan itu terkait dengan dampak krisis global yang mulai memukul sektor manufaktur dan otomotif. "Industri otomotif sedang penurunan, tercermin dari produksi mobil dan sepeda motor yang merosot," tegas Irvan.
Meski begitu, Irvan tidak menyebutkan secara rinci nilai pendapatan pada enam bulan pertama 2009 itu karena menurut dia masih pada tahap penyelesaian audit.
Menurut catatan, pendapatan bersih perseroan selama 2008 mencapai Rp20,6 triliun. Akan tetapi Irvan menjelaskan, pada semester II 2009 prediksi penjualan akan melonjak sekitar 10-15 persen dibanding semester sebelumnya.
Hal senada diungkapkan Dirut KS Fazwar Bujang, bahwa memasuki semester II tahun pendapatan perusahaan diproyeksikan akan membaik. "Pasar (permintaan baja) mulai membaik, mudah-mudahan terus berlanjut hingga akhir tahun," kata Fazwar.
Dampak krisis global sedikit demi sedikit mulai berkurang. Meski begitu, ujarnya, menjelang akhir tahun penjualan sedikit tersendat terutama memasuki September dan Oktober. "Periode itu dua minggu saat puasa dan setelah lebaran akan terjadi hambatan pengiriman baja karena banyak jalan yang ditutup," ujarnya.
Ia juga menyoroti makin maraknya impor produk baja yang bisa memukul industri baja nasional. "Asosiasi baja sudah sepakat akan menyerukan KADI (Komite Anti Dumping Indonesia) untuk mengeluarkan kebijakan antidumping berupa safeguard untuk menahan impor produk baja," tegasnya. [*/cms]