INILAH.COM, New York - Harga minyak terus melonjak pada perdagangan Kamis (16/7), usai Cina menyatakan perekonomian negerinya tumbuh lebih cepat pada kuartal II. Sementara pemerintah Amerika Serikat (AS) melaporkan jumlah pengangguran yang meningkat.
Harga minyak untuk kontrak Agustus naik 48 sen menjadi US$ 62,02 per barel pada perdagangan elektronik New York Mercantile Exchange. Di London, Brent turun 34 sen menjadi US$ 62,75 per barel pada perdagangan ICE Futures.
Harga gas alam tenggelam 12% walau pemerintah melaporkan posisi cadangan gas yang cukup baik diatas rata-rata 5 tahun. Harga gas alam untuk kontrak Agustus naik 38,5 sen menjadi US$ 3,66 per 1000 kaki kubik.
Pada awal perdagangan, departemen tenaga kerja menyatakan aplikasi asuransi pengangguran jatuh ke level terendah sejak Januari. Kendati demikian, analisa departemen mengatakan penurunan tersebut merefleksikan peningkatan pengangguran hanya disektor industri otomotif, dan bukan sinyal penting akan peningkatan ekonomi.
Sementara itu, Cina melaporkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II meningkat 7,9% bila dibandingkan dengan tahun lalu. Analis menyatakan, negeri tirai bambu ini harus mencapai targetnya sepanjang tahun ini yaitu 8%.
Cina berharap dapat memimpin negara-negara besar lainnya diluar resesi global. Namun, pertumbuhan tersebut masih belum memberikan dorongan bagi para investor untuk berinvestasi lebih pada sektor energi, ujar analis Phil Flynn. "Hal itu bukan angka yang bombastis," ujarnya mengenai pertumbuhan Cina.
Pada perdagangan Nymex, harga gasolin naik kurang dari 1 penny menjadi US$ 1,71 per galon dan heating oil untuk kontrak Agustus naik 1,73 sen menjadi US$ 1,59 per galon.[mre/cms]