INILAH.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilanda panic selling meski sempat menghijau seiring peristiwa ledakan di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Investor diharapkan tidak panik dan melakukan selective buying pada saham berfundamental kokoh.
Aji Martono, analis pasar modal dari Indomitra securities menuturkan, saham-saham di Bursa Efek Indonesia masih bergerak fluktuatif. Setelah terjadi panic selling di awal perdagangan, IHSG sempat menguat meskipun sekarang ekmabli melemah. Indeks masih terus bergerak fluktuatif, hampir semua merah, katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, IHSG sempat mengalami penurunan luar biasa. Terjadi panic selling dan bargaining di semua saham yang menyebabkan IHSG pada sesi awal perdagangan, terpuruk sebesar 54 poin (2,6%) ke level 2.063.
IHSG kembali berangsur-angsur menguat sehingga pada pukul 09.50 WIB, IHSG hanya minus 13 poin dan sudah menghijau lagi pada pukul 10.15 WIB. Namun menjelang penutupan sesi pertama pukul 11.30 WIB, banyak saham yang kembali lagi ke zona merah alias terkoreksi.
Ia mensinyalir penguatan bursa yang sempat terjadi beberapa saat lalu, disebabkan aksi spekulan yang memanfaatkan situasi dengan masuk dan membeli saham-saham yang mengalami panic selling. Sehingga IHSG pada sesi dua akan mendapat tekanan yang lebih besar. Para spekulan akan profit taking setelah mereka memperoleh gain,ujarnya.
Aji memperkriakan panic selling tidak berlangsung lama, sehingga IHSG dapat ditutup di zona positif pada hari terakhir perdagangan. Hal ini didukung sentimen bursa regional dan bursa Wallstreet yang kembali optimis setelah kinerja perusahaan kuartal kedua 2009 di atas estimasi. Demikian juga harga minyak yang ditutup naik ke level US$ 62 per barel.
Kendati ada peluang penguatan, Aji menilai kondisi belum stabil dan berpotensi terus tertekan. Namun, ia menyarankan agar investor tidak panik dan berpikir bijak menentukan arah investasi jangka menengah dan panjang.
Salah satunya adalah dengan selective buying pada saham-saham dengan fundamental kokoh. Pilah dan pilih saham yang mempunyai fundamental kuat dan mengalami panic selling, katanya.
Beberapa saham yang menjadi pilihannya adalah PT Unilever (UNVR), PT Astra Internasional (ASII), PT Telkom (TLKM), PT Indosat (ISAT), PT Gudang Garam (GGRM), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Danamon (BDMN), PT Bank Central Asia (BBCA), PT Timah (TINS), PT Aneka Tambang (ANTM). [E1]