INILAH.COM, Jakarta Ledakan bom di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Marriot, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, serta ledakan bom mobil di Muara Angke, Jakarta Utara, langsung membuyarkan klaim aparat keamanan dan petinggi pemerintahan tentang situasi keamanan dalam Pemilu 2009. Mengapa kinerja aparat keamanan demikian lemah?
Menurut anggota Komisi III DPR Suripto, klaim aparat keamanan dan petinggi pemerintahan bahwa selama ini situasi Indonesia aman dan terkendali sepertinya hanya menggunakan kaca mata kuda saja. Mereka hanya melihat antri di TPS lancar, maka (keamanan) dinggap beres, tegas Suripto kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (17/7).
Menurut dia, melihat keamanan Indonesia harus komprehensif. Bagaimana Suripto yang dikenal sebagai pengamat intelijen tersebut melihat situasi keamanan saat ini? Bagaimana pula kaitannya dengan klaim pemilu aman? Berikut ini wawancara lengkapnya:
Apakah bom yang meledak di kawasan Mega Kuningan dan Muara Angke bisa menciderai citra Pemilu 2009 yang relatif aman? Apalagi Presiden AS Barack Obama telah mengucapkan selamat atas sukses Indonesia melaksanakan pemilu?
Tentu sebelum menjawab itu, kita harus melihat latar belakang masalahnya. Kalau kita lihat, sebelum peristiwa yang terjadi JW Marriot dan Ritz Carlton, itu berbagai petinggi keamanan menyatakan bahwa situasi aman dan terkendali. Ini cara membacanya bagaimana?
Ini persoalannya. Apakah mereka hanya seperti memakai kacamata kuda, artinya hanya melihat kemanan dari sudut pandang hanya proses Pemilu 2009 yang secara fisik relatif tidak terjadi huruhara dan kerusuhan atau konflik horizontal. Kalau membacanya dari situ, tentu saja saya bisa mengatakan benar bahwa pemilu aman.
Tetapi membaca situasi kemanan itu sebaiknya dalam konteks yang lebih luas. Artinya situasi keamanan itu mesti dilihat mulai dari persepsi ancaman, apa yang menjadi ancaman terhadap kemanan? Kita sudah mulai dengan persepsi ancaman atau tidak? Itu yang mestinya harus diuji. Salah satu aspek dalam soal situasi kemanan adalah soal kesenjangan sosial, soal terorisme, soal kejahatan transnasional (illegal logging, illegal fishing). Itu semua saling terkait.
Jadi melihatnya bukan hanya pada orang antri di TPS, trus dianggap beres. Situasi keamanan kita itu masih rawan. Karena banyak hal yang masih belum kita atasi, seperti penegakan hukum, kejahatan korupsi, dan transnasional.
Dengan demikian adanya klaim aman yang selama ini digemborkan petinggi keamanan kita menjadi buyar, akibat peristiwa bom di Kuningan dan Muara Angke ini? Termasuk juga apresiasi dunia internasional terhadap proses pemilu?
Persepsinya memang berbeda. Kalau mereka melihat dengan kacamata kuda, hanya melihat pemilu ansich. Tapi masalah sosial keamanan tidak lepas dan luput dari kondisi sosial masyarakat yang ada.
Apakah ini menciderai proses Pemilu 2009?
Tentu saja. Saya tidak menyebut peristiwa ini menciderai, tapi peristiwa ini bisa merangsang dan mentrigger pihak-pihak yang kalah dan merasa tidak puas dengan tuduhan seperti DPT. Bisa saja aksi protes ke depan lebih diwarnai oleh aksi kekerasan.
Apakah ledakan bom di Mega Kuningan ini terkait dengan jaringan terorisme yang ada di Indonesia?
Soal Noordin M Top saja sampai hari ini saja masih tanda tanya besar, apakah sudah mati atau masih hidup. Tentu saja ada bentuk terorisme yang berkembang, tidak bisa kita hanya melihat hanya Nordin M top saja. Sejauhmana studi terorisme cukup menjadi perhatian dan pokok pangkal untuk dibahas di Indonesia? [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !