inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Ledakan Bom, IHSG Masih Bisa Menguat

Headline
Bom di Hotel Ritz Carlton & JW Marriot - ist
Oleh: Ahmad Munjin & Asteria
Jumat, 17 Juli 2009 | 12:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta Ledakan di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot meluluhkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sesi siang akhir pekan ini. Namun, bursa masih berpeluang ditutup menguat atas sejumlah sentimen positif.
Pada perdagangan Jumat (17/7) sesi siang, IHSG terguling sebesar 1,22% ke level 2.092,08. Sedangkan indeks saham-saham unggulan LQ 45 melemah 1,18% ke level 408,99.
Nilai transaksi tercatat Rp 2,22 triliun, dengan volume sebesar 3,136 miliar saham dan frekuensi sebanyak 56.070 kali. Sebanyak 25 saham naik, 170 saham turun, dan 29 saham tidak berubah.
IHSG masih tertekan pasca ledakan bom di Mega kuningan. Sedangkan bursa Asia sebagian besar terpantau menguat merespon rally lanjutan Wall Street. Sektor industri dasar mencatat penurunan terbesar dengan anjlok 3,62%, disusul perkebunan melemah 2,6%, finansial 2,15%, properti 2,02%, perdagangan 1,7% dan tambang 1,6%. Hanya satu sektor yang masih menguat yaitu konsumer.
Norico Gaman, analis dari BNI Securities menuturkan, IHSG masih akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini, menyusul terjadinya ledakan di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot tadi pagi. Namun, ia optimistis bursa dapat ditutup di zona positif pada akhir sesi.
Apalagi harga minyak dunia naik ke level US$ 62 per barel. IHSG ada potensi menguat meskipun tipis, dan bergerak di kisaran 2.000 hingga 2.050, katanya kepada INILAH.COM , di Jakarta, Jumat (17/7).
Menurutnya, jika pasar sudah mendapat kepastian tentang peledakan itu, bursa akan kembali pulih di sesi kedua. Ia menjelaskan, pasar saat ini mencermati apakah ledakan ini ada hubungannya dengan stabilitas politik dalam negeri.
Pasalnya, perkembangan politik terakhir sangat sensitif terhadap risiko investasi. Sehingga ketidakstabilan politik domestik akan berpengaruh jangka panjang. Artinya pemilihan umum tidak berjalan lancar. Tapi, hingga saat ini kita belum tahu siapa pelaku utama ledakan ini, paparnya.
Sedangkan jika tidak ada hubungannya dengan pemilu, misalkan disebabkan teroris, maka sentimen ini hanya berimbas jangka pendek. Tinggal nanti bagaimana kondisi ledakan itu dan motif di belakangnya, paparnya.
Menurut Norico, ledakan itu sebenarnya tidak berpengaruh signifikan pada fundamental ekonomi Indonesia, hanya mempengaruhi persepsi pelaku pasar dilihat dari risiko politik. Walaupun ini juga akan mempengaruhi risiko investasi jika dilihat dari persepsi politik, imbuhnya.
Norico menuturkan, pada saat pre-opening, pelaku pasar melakukan aksi jual beberapa saham unggulan dan saham lapis kedua. Tapi tampaknya tidak signifikan posisi jual karena hanya untuk merespons dalam jangka pendek, ucapnya.
Harga minyak mentah yang naik ke level US$ 62 per barel, lanjutnya, akan menahan koreksi indeks. Ia pun merekomedasikan saham-saham berbasis komoditas, seperti PT Bumi Resources (BUMI), PT Adaro Energy (ADRO), PT Bukit Asam (PTBA), PT Indika (INDY), dan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG).
Emiten-emiten yang terkait energi ini akan menjadi penggerak indeks, tambahnya. Selain itu, direkomendasikan juga saham infrastruktur dan properti yang belum mengalami penguatan signifikan.
Menurut Norico, rencana pemerintah meningkatkan stimulus ekonomi diharapkan bisa meningkatkan kinerja saham-saham infrastruktur. Saya rekomendasikan saham PT Jasa Marga (JSMR) dan PT Wijaya Karya (WIKA) , pungkasnya.
Di sisi lain, tim riset Indo Premier Securities menuturkan, IHSG menjelang tutup pekan berpotensi bergerak mixed. Pada sesi pagi euforia dari sentimen Wall Street, bursa regional dan naiknya harga minyak bumi diambil alih oleh ledakan yang terjadi di Mega Kuningan. IHSG berpotensi bergerak dalam kisaran 2.030-2.170, imbuhnya.
Menurut mereka, ledakan yang menelan beberapa korban warga negara asing itu ini menyeret turun IHSG. Investor juga melepas sebagian portofolionya, menjelang akhir pekan, karena hari Senin (20/7) pekan depan, bursa libur.
Namun, beberapa investor diprediksi mengambil momen harga saham yang melemah untuk melakukan akumulasi. Beberapa saham yang direkomendasikan berasal dari sektor tambang batubara dan logam seperti PTBA, ITMG, UNTR, TINS, dan INCO.
Kemudian saham perkebunan seperti PT London Sumatra (LSIP), PT Astra Argo Lestari (AALI), dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP). Selain itu, saham infrastruktur seperti PT Telkom (TLKM), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), dan saham semen PT Semen Gresik (SMGR), PT Indocement(INTP) . Investor bisa akumulasi saham-saham defesif ini, imbuhnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.