INILAH.COM, New York - Harga minyak tetap melaju dan naik di atas US$ 63 per barel pada perdagangan Jumat (17/7), yang disebabkan pernyataan negeri tirai bambu, Cina, bahwa pihaknya mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang cepat.
Selain itu, keadaan politik Iran menyebabkan kekawatiran akan suplai minyak masa mendatang.
Harga minyak kontrak Agustus melonjak US$ 1,54 menjadi US$ 63,56 per barel, pada perdagangan elektronik New York Mercantile Exchange. Di London, Brent naik US$ 2,63 menjadi US$ 65,38 per barel, pada ICE Futures.
Pada awal pekan ini, perdagangan minyak sangat mengacu pada Wall Street, dan harga minyak terus melonjak sejak pernyataan pemerintah Cina yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi sangat cepat pada kuartal II.
Sementara di Iran, keadaan politik yang tidak pernah istirahat, dikombinasikan dengan pernyataan bahwa produksi minyak akan menurun akhir tahun ini. Iran memiliki 136,2 miliar barel minyak, dibawah Arab Saudi dan Kanada dalam jumlah cadangan minyak. Hal tersebut berdasar data administrasi informasi energi, departemen energi AS. Keadaan pilitik yang terus bergejolak dapat mengganggu suplai minyak dalam jangka panjang dan bisa terus mendongkrak harga minyak.
Kenaikan harga minyak juga disebabkan laporan pemerintah AS mengenai kenaikan kontruksi rumah baru meningkat pada Juni lalu, level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Pada perdagangan Nymex, harga gasolin naik 5,64 sen menjadi US$ 1,77 per galon dan harga gas alam naik menjadi US$ 3,67 per 1000 kaki kubik, keduanya untuk kontrak Agustus. [mre/cms]