INILAH.COM, Jakarta - Kadin menyerukan berbagai kalangan bersatu mengubah ketidakpastian ekonomi nasional pasca ledakan bom di Mega Kuningan, Jakarta, yang akan mempengaruhi masuknya investasi asing secara langsung ke Indonesia.
"Ledakan bom di Mega Kuningan itu, mau tak mau, membangun ketidakpastian baru di dalam negeri. Kita harus bersatu mengubah ketidakpastian dengan menetralisir suasana dan bekerja keras mewujudkan suasana kondusif," ujar Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Neger Kadin Indonesia, Bambang Soesatyo dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin (20/7).
Ia mengkritisi pernyataan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SY) pasca ledakan juga membuat banyak masyarakat bingung karena peristiwa di Mega Kuningan itu dikaitkan dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 sehingga mendorong sebagian masyarakat berspekulasi peledakan bom itu sebagai bentuk perlawanan dari kelompok yang kecewa akibat pelaksanaan Pilpres.
"Kalau pertanyaan dan spekulasi itu tidak segera mendapatkan jawaban yang akurat, suasana tidak kondusif di dalam negeri akan berkepanjangan. Suasana yang tidak kondusif akan menimbulkan kesulitan bagi kita dalam upaya menghentikan proses pendalaman krisis ekonomi," ujarnya.
Bambang juga meminta pemerintah tidak menyederhanakan masalah ekonomi dengan hanya melihat fluktuasi nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tidak terpengaruh secara signifikan pasca ledakan bom. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah lebih serius mengatasi pengaruh ledakan bom di Mega Kuningan tersebut terhadap perekonomian nasional termasuk investasi.
"Investasi jangka pendek lewat instrumen porto-folio mungkin akan terus mengalir. Tetapi kita akan terus mengalami kesulitan untuk menarik investasi langsung dari para pemodal asing," ujar Bambang.
Ia mengatakan masuknya modal asing dalam bentuk investasi langsung sangat diperlukan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, karena likuditas pemerintah mulai memprihatinkan, terkait prediksi pemerintah mengenai defisit APBN 2009 yang bisa mencapai hampir tiga persen.
"Potensi membengkaknya defisit APBN 2009 menjadi tiga persen bisa terjadi, karena pendapatan negara dari pajak mengalami koreksi yang tajam. Pendapatan negara dari pajak turun akibat pertumbuhan ekonomi melemah," katanya.
Diakuinya, pemerintah pasti akan mengatasi defisit tahun berjalan dan tahun 2010 dengan utang baru, baik utang dari luar maupun dalam negeri. Bambang memperkirakan pemerintah akan mendapat kecaman bila mencari utang luar negeri, sehingga pemerintah akan meningkatkan intensitas penerbitan Surat Utang Negara (SUN), yang berarti menyedot likuditas dari pasar.
Langkah itu, lanjut dia, akan berisiko sedikitnya likuiditas bagi industri perbankan dalam negeri, yang mendorong naiknya suku bunga pinjaman. "Kalau sudah seperti itu prosesnya, sulit untuk mengharapkan peran kuat sektor riil kita untuk menghentikan pendalaman krisis, apalagi menjadi motor pemulihan. Situasinya seperti menghadapi buah simalakama," katanya.
Oleh karena itu, Bambang berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terus membangun kembali suasana harmonis di antara berbagai elemen bangsa, dengan menyikapi protes atas jalannya Pilpres 2009 dengan demokratis. "Jangan melihatnya (protes) sebagai ancaman, karena cara seperti itu akan menimbulkan ketegangan di masyarakat. Prioritaskan persoalan ekonomi, karena dampak krisis finansial mulai menggerogoti kesejahteraan masyarakat," kata Bambang. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !