INILAH.COM, Bekasi - Dua kali mengalami pemboman di tempatnya bekerja sangat membuat Sarman (29) trauma. Bayangan kengerian yang kerap menghantui satpam Hotel JW Marriot Jakarta ini pun membuatnya berniat hendak mencari pekerjaan di tempat lain.
Ayah satu anak ini bahkan enggan untuk bersosialisasi dengan para tetangga. Sejumlah tetangga mengaku, sejak kejadian bom Marriott 17 Juli, Sarman lebih banyak mengurung diri di dalam rumah kontrakannya.
Sarman yang ditemui di rumahnya RT 07/01, Kampung Kayuringin, Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Senin (20/7), juga enggan untuk berkomentar. Dengan alasan tengah masuk angin, Sarman mengaku tidak mau menerima tamu. "Maaf ya saya lagi sakit. Lain waktu saja," kata Sarman sambil menutup pintu rumahnya.
Menurut keterangan istri Sarman, Ratna (29), suaminya lebih jarang keluar rumah sejak kejadian bom yang menewaskan 9 orang tersebut. "Sarman hanya mengalami luka ringan pada bagian pendengarannya dan beberapa luka lecet pada bagian kakinya. Kalau teman seprofesinya lebih parah, dan hingga saat ini masih dirawat," tutur Ratna.
Saat kejadian, papar Ratna, Sarman tengah bertugas di bagian luar hotel, sehingga ledakan yang terjadi di dalam hotel itu hanya terdengar oleh korban yang berjarak sekitar 40 meter.
Hal senada disampaikan tetangga Sarman, Novia (25). "Yang kita tahu, Sarman hanya luka pada pendengarannya, dan itu membuat dia trauma. Apalagi ledakan bom tersebut telah dua kali didengarnya, sejak tahun 2003 lalu, Sarman telah bekerja di Hotel itu. Sarman baru saja 2 hari pulang dari rumah sakit. Dia dibolehkan pulang karena luka yang dialaminya cukup ringan," katanya. [*/sss]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !