INILAH.COM, Jakarta - Sampai saat ini, Polri belum mengungkap siapa pelaku pemboman Ritz Carlton dan JW Marriott. Pernyataan SBY yang seakan menggiring bila pelaku pemboman berkaitan dengan pilpres dianggap telah menjebak Porli dalam menguak siapa dan apa motif pemboman.
"Polisi harusnya berpijak pada bukti material atau hukum yang sifatnya nyata, jangan berpijak dan terjebak kepada pemikiran presiden. Jadikan itu sebagai petunjuk saja," ujar pengamat kepolisian Universitas Indonesia (UI) Bambang Widodo Umar kepada INILAH.COM, Jakarta, Selasa (21/7).
Polisi, sambung Bambang, haruslah beranjak dari bukti-bukti yang ditemukan di lapangan untuk mengembangkan kasus pemboman yang menewaskan 9 orang itu. Dan pernyataan SBY juga sebaiknya tidak dijadikan polisi sebagai sesuatu yang menghambat jalannya penyelidikan karena harus mengikuti apa yang diungkapkan presiden.
"Polisi jangan hanya sekadar melakukan metode penyelidikan yang konvensional, mungkin saja latar belakangnya itu masalah stabilitas ekonomi bukan hanya stabilitas kemanan. Intelijen kepolisian maupun BIN dalam koordinasi kerjanya juga harus lebih sistemik," katanya.
Bambang mengaku, tidak bisa menerka-nerka siapa pelaku pemboman di Mega Kuningan itu. Karena itu merupakan tugas kepolisian untuk mengungkap apakah itu jaringan lama pimpinan Noordin M Top atau jaringan baru.
"Kalau soal motif apakah berkaitan dengan pilpres, itu sebenarnya hanya kebetulan tumpang tindih saja suasananya. Menurut hemat saya, secara tidak langsung peristiwa ini berkaitan dengan suasana pilpres sekarang," tandasnya. [mut]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !