INILAH.COM, Jakarta - Jumat (17/7), dua teroris menjadi pelaku bom bunuh diri yang diduga masih di bawah kendali Noordin M Top. Gembong teroris sangat licin ini kembali memakan korban jiwa, sembilan tewas, puluhan lain luka-luka. Sang gembong itu pun masih berkeliaran.
Tidak ada yang mampu menghentikan aksi biadab itu. Bahkan Noordin M Top dihargai Rp 1 miliar bagi siapapun yang bisa menangkapnya, hidup atau mati. Akankah aksi terorisme ini berlanjut?
Banyak pihak prihatin karena gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top, yang telah bertahun-tahun menjadi buron, masih tetap misteri. Noordin tak juga tertangkap. Mabes Polri yang mengaku terus melakukan pengejaran tak juga mampu menangkapnya. Kenapa Noordin begitu sulit ditangkap?
Beberapa pandangan bisa dicatat. Pertama, pandangan Direktur International Crisis Group, Sidney Jones yang melihat Noordin tak tertangkap katena ada jaringan yang masih mau melindunginya dan merasa ikhlas melakukan hal ini.
Pandangan kedua, dari tokoh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Fauzan Al Anshari yang justru menuding CIA dan Amerika Serikat (AS) menjadi biang kerok kenapa Noordin belum juga tertangkap. "Saya curiga ini skenario besar dari CIA dan AS agar Indonesia tidak aman," ujar Fauzan.
Pandangan ketiga, karena jaringan keluarga teroris masih melindungi Noordin dari jeratan intelijen dan polisi untuk menangkapnya. Jaringan dan sel teroris Noordin bertebaran di Tanah Air baik di Jawa maupun luar Jawa.
Teranyar, temuan bahan peledak di Cilacap. Tim Disaster Victim Investigation, tengah mencocokkan berbagai barang bukti yang ada di Kamar 1808 Hotel JW Marriott atau di tempat kejadian perkara dengan barang bukti yang didapatkan di lokasi lain, seperti Malang (Jawa Timur), Lampung, dan Cilacap (Jawa Tengah).
Untuk sementara, hasil temuan cocok dengan temuan tim polisi antiteror di Cilacap. Temuan di Cilacap itu ada di pekarangan rumah Baharudin Latief, yang diduga merupakan mertua dari Noordin M Top. Baharudin beserta keluarganya, termasuk anak perempuannya yang diduga dinikahi Noordin, menghilang sejak Juni 2009.
Baharudin menghilang sejak polisi menangkap Saefudin Zuhri yang juga tinggal di Cilacap. Zuhri diduga merupakan pelindung Noordin, yang sempat memasok bahan peledak ke sel Noordin di Palembang, Sumatera Selatan.
Dengan bukti bom Mega Kuningan memiliki kesamaan jenis bahan peledak dengan bahan peledak di Cilacap, jelas peran keluarga istri Noordin tak boleh diremehkan dalam upaya melindungi Noordin di tengah pelarian dan kejaran aparat.
Kini, masyarakat dan negara harus bersama memburu gembong teroris itu karena pada diri Noordin, terletak kunci gerakan terorisme global. Menangkap Noordin merupakan persyaratan mutlak agar terorisme global bisa dipangkas operasinya di Indonesia.
Sudah waktunya bagi presiden, Polri/TNI dana BIN bersama rakyat memburu Noordin dan keluarganya bersembunyi entah dimana. Selama Noordin M Top belum tertangkap, pemerintahan Australia dan negara-negara Asean meyakini aksi teror akan berlanjut.
"Ada kekhawatiran dan dugaan bahwa aksi teror itu akan berlanjut selama Noordin belum ditangkap," imbuh Sydney Jones. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !