INILAH.COM, Jakarta - Meski ahli terorisme sudah mengatakan ledakan bom di Mega Kuningan terkait jaringan Jamaah Islamiah (JI), polisi belum berani mengaitkan hal itu. Sikap polisi yang demikian kaku itu karena tersandera pidato Presiden SBY yang mengatakan teror bom terkait ketidakpuasan hasil Pilpres 2009.
"Saya melihat ini adalah fenomenan polisi tersandera statmen Pak SBY yang mengatakan bahwa ledakan teror bom itu terkait hasil Pilpres 2009. Padahal kan semua ahli terorisme sudah menyatakan itu terkait Nurdin M Top. Jadi di sini terlihat polisi agak kaku," kata anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (21/7).
Politisi FPDIP ini mengatakan, selain pidato SBY itu yang mengganggu kerja polisi, faktor bukti-bukti kuat pun belum didapatkan. Sehingga polisi belum berani menyimpulkan ledakan bom Mega Kuningan terkait JI.
"Mungkin juga polisi mencari cara untuk menyelamatkan muka semua orang. Jadi polisinya bingung, ditambah lagi pernyataan pejabat yang ikut-ikutan menanggapi bom," paparnya.
Meski tak mungkin melakukan rapat internal Komisi III DPR dalam waktu dekat, Eva mengaku saat ini semua pihak harus mendorong pihak kepolisian untuk terus mengusut tuntas kasus terorisme itu. Ia juga berharap ahli forensik bisa bekerja maksimal agar ditemukan bukti-bukti yang akurat.
"Yang harus kita lakukan adalah perkuat dukungan untuk polisi, dengan terus fokus pada standar operasional yang ada, jangan sampai menimbulkan spekulasi-spekulasi yang bersifat bias," ungkapnya.
Eva mengatakan bila masa reses DPR usai yakni pada 3 Agustus mendatang, Komisi III DPR akan langsung menggelar rapat internal membahas kasus tersebut. "Saat ini kita coba untuk memberikan dukungan politik kepada polisi, agar mereka tak terbebani hipotesa-hipotesa yang spekulatif," tandasnya. [ikl/ton]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !