inovasi portal berita
Sabtu, 4 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,995.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Pemerintah Sulit Migrasi ke Linux

Headline
istimewa
Oleh:
Rabu, 22 Juli 2009 | 19:21 WIB
INILAH.COM, Jakarta- Migrasi dari software berlisensi ke software open source di berbagai instansi pemerintah masih tersandung berbagai kendala. Instansi pemerintah di antaranya masih sulit mengubah kebiasaan menggunakan sistem operasi Microsoft.

"Dari target migrasi software pada September 2008 sampai Agustus 2009 sebanyak 486 unit personal computer (PC) di Depdiknas, baru 256 PC yang sudah bermigrasi," kata Kepala Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekom) Depdiknas, Lilik Gani pada Seminar Nasional Pengguna Open Source Software dan IGOS Center di Jakarta, Rabu (22/7).

Diakuinya, sulit mengubah kebiasaan pengguna komputer yang sudah terbiasa memakai sistem operasi Microsoft Windows ke sistem yang lain. Misalnya saja berpindah ke Linux IGOS atau Ubuntu meski untuk mendapatkannya tak perlu membayar.

Kendala lainnya, kurangnya pemahaman mengenai open source, kesadaran tentang software legal, kompatibilitas data aplikasi, pendampingan sumber daya manusia yang terbatas. Termasuk belum ada helpdesk serta koordinasi antar unit yang kurang serta distro OS yang terlalu banyak.

Sementara itu, pengelola IT Depag, Achmad Gufron, juga mengakui berbagai hambatan tersebut sehingga dari sekitar 3.000 PC di Depag belum ada yang bermigrasi dari Microsoft ke OS.

"Kalau sistem operasi kan Windows sudah included ketika beli PC, tapi Office-nya kami menggunakan Microsoft Office yang trial hanya beberapa yang pakai legal," katanya.

Karena itu, lanjut dia, ke depan pihaknya akan turut mensosialisasikan penggunaan open source di semua PC di Depag agar ada penghematan uang negara. Saat ini, ada juga server di Depag yang telah menggunakan open source seperti server dari situs www.depag.go.id, ujarnya.

Sementara itu, Kepala IT PT Telkom, Indra Utoyo, mengatakan, sulit melakukan migrasi ke open source karena banyak yang fanatik pada Microsoft. Namun saat ini pihaknya sudah berhasil membuat 12 ribu PC bermigrasi ke open source.

"Tapi kami tidak fanatik juga pada open source, kami hanya fanatik pada solusi. Jadi ada beberapa pertimbangan untuk memilih apakah akan menggunakan software open source atau berlisensi," katanya.[*/ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
3 Komentar
codexscript @ Jumat, 16 Oktober 2009 | 11:33 WIB
alibi nih....
Ahmad Faris @ Kamis, 23 Juli 2009 | 07:47 WIB
Saya pikir terhambatnya migrasi di lingkungan pemerintah karena budaya malas para pekerjaannya untuk kembali belajar, belajar bagaimana mengunakan OSS, sama seperti perpindahan penggunaan Word Star ke microsoft Office. untuk biaya migrasi saya juga berfikir untuk perhitungan biaya, memang terlihat besar, pada saat awal migrasi, tapi kita tidak perlu lagi membayar lisensi pertahun kepada vendor Operating System tertentu, sehingga kalau kita hitung - hitung ternyata cost nya jauh lebih murah bermigrasi ke OSS ketimbang membeli lisensi ke vendor tertentu yang di punyai oleh orang terkaya di dunia, bukankah lebih baik mensejahterakan negara kita ketimbang kita beri ke orang tersebut? Bravo pak lili, maju terus untuk membangkitkan negeri ini dengan mengajarkan teman - teman di Departemennya tentang kelebihan serta manfaat pengunaan OSS.
paidjo @ Rabu, 22 Juli 2009 | 23:47 WIB
migrasi ke sistem operasi yang open source, tidak begitu mudah. dan diperlukan SDM yang mencukupi. berdasarkan yang pernah saya lakukan bahwa migrasi untuk kantor cabang yang diluar pulau jawa saja memerlukan dana yang besar, walaupun SO yang gratis. biaya transportasi, hotel dan pengadaan training yang besar.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.