INILAH.COM, Jakarta - Saham PT Bumi Resources (BUMI), Kamis (23/7) diprediksikan menguat. Besarnya volume transaksi pada perdagangan kemarin akan memicu investor berbelanja saham produsen batubara thermal ini. Trading buy untuk BUMI!
Analis PT Indomitra Securities Aji Martono mengatakan, penguatan saham BUMI seiring besarnya volume transaksi pada perdagangan kemarin. Hal ini akan memicu aksi beli yang besar pada perdagangan hari ini sehingga saham sejuta umat ini berpeluang menguat.
Selain itu, pergerakan indeks regional dan fluktuasi harga minyak dunia yang saat ini berada pada level US$ 64 per barel akan membawa dampak positif bagi saham-saham pertambangan termasuk BUMI.
BUMI akan bergerak dalam kisaran support Rp 1.940 dengan resistan di Rp 2.225, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (22/7) malam. Pada penutupan perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp 25 (1,21%) menjadi Rp 2.025. Volume transaksi mencapai 427,8 juta unit saham senilai Rp 876,8 miliar dan frekuensi 9.018 kali.
Menurut Aji pelemahan saham BUMI kemarin terjadi akibat aksi profit taking investor sehingga hanya terjadi koreksi yang wajar dengan pelemahan indeks sebesar 22,6 poin.
Di sisi lain, aksi korporasi yang telah dilakukan BUMI dengan penyertaan 10% saham di Newmont Nusa Tenggara dan akuisisi dua tambang lainnya merupakan sentimen posisif bagi pergerakan saham BUMI ke depan. Ini yang dalam jangka panjang akan membuat valuasinya lebih tinggi dibandingkan apabila tidak memiliki produksi tambahan, imbuhnya.
Selain itu, peluang penguatan BUMI juga didasari penguatan harga minyak dunia yang akan men-support penguatan harga batubara di tingkat dunia. Komoditas lain pun menguat seperti nikel, timah, dan emas, imbuhnya.
Karena itu, secara teknikal hingga akhir pekan (middle term) saham sejuta umat ini bisa menyentuh target levelnya pada angka Rp 2.400. Menurut Aji, pada perdagangan pekan ini BUMI bisa menembus level itu.
Jika hari ini BUMI tembus level resistan Rp 2.225, pada perdagangan berikutnya mengarah ke level Rp 2.400, ungkapnya. Level ini, menurutnya merupakan target price pertama, sebelum mencapai target berikutnya pada level Rp 3.000 per lembar sahamnya.
Namun demikian, investor harus fokus pada sentimen yang memiliki korelasi langsung dengan pergerakan saham BUMI yaitu harga minyak dunia yang saat ini mecapai US$ 64 per barel. Apabila minyak mengalami fluktuasi, penguatan BUMI bisa berlanjut, tuturnya. Aji menuturkan, titik psikologis Rp 2.000 bisa dijadikan benchmark oleh investor bahwa BUMI sudah layak untuk diakumulasi untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Sehingga, probabilitas untuk meraih gain untuk jangka pendek juga ada, apalagi untuk jangka panjang, tandasnya.
Aksi korporasi yang dilakukan emiten ini akhir-akhir ini, juga bisa menjadi alasan investor melakukan aksi beli. Pasalnya, apabila saham ini mengalami pelemahan, kemungkinan aksi beli juga akan kembali terjadi dan akan menggoyang saham sejuta umat ini pada perdagangan selanjutnya.
Apabila kita lihat secara teknical, saya akan menjual saham ini jika BUMI lepas di angka Rp 1.940. Tapi saya akan tetap hold apabila BUMI hanya turun di level Rp 1.980-1.970, paparnya. Jika BUMI balik lagi ke harga Rp 1.970 investor seharusnya melakukan aksi beli pada level Rp 2.000-nya. Itu kalau kita lihat secara teknikal, ucapnya.
Aji mewanti-wanti volume transaksi yang besar pada perdagangan kemarin bisa dijadikan sandaran secara teknikal. Namun performance dari emiten ini juga cukup bagus, selain karena aksi korporsi dari emiten ini juga menarik, paparnya.
BUMI pun mendapat rekomendasi trading buy untuk jangka pendek dan rekomendasi buy baik untuk middle term maupun long term. Trading range berada pada level support Rp 1.940, jika investor menjual BUMI pada level Rp 2.000, asumsinya BUMI akan turun hingga level Rp 1.950. Jika saya beli lagi di Rp 1.950 saya masih untung. Nggak pernah rugi, bebernya. [E1]