INILAH.COM, Tokyo – Meski disalahkan banyak pihak karena ancaman radiasi, Tokyo Electric Power Co. selaku operator PLTN Fukushima bekerja dalam diam. Tak tahan, salah satu krunya pun curhat via blog.
Curhat itu disampaikan seorang pekerja perempuan Tokyo Electric Power Co. (TEPCO), Michiko Otsuki. Namanya sering muncul dalam laporan di seluruh dunia, beberapa waktu belakangan ini. setelah ditelusuri, Otsuki rupanya menulis di blog populer di Jepang, Mixi.
Per Kamis (17/3), tulisan Otsuki sudah diturunkan meski beberapa blog lain sudah mengopinya dan telah ramai di berbagai forum berbahasa Jepang. Ia adalah salah satu pekerja yang dievakuasi dari PLTN Fukushima Daiichi pada Senin (14/3) lalu.
Sementara 50 rekannya ditinggal untuk bertarung melawan radiasi. Pada tulisan yang bertanggal Selasa (15/4), ia menulis tentang meningkatnya kritik terhadap perusahaan tempatnya bekerja. “Semua orang menyalahkan TEPCO. Tapi staf TEPCO menolak melarikan diri dan terus bekerja meski harus mengorbankan nyawa. Tolong berhenti menyalahkan kami,” tulisnya.
TEPCO adalah perusahaan yang memasok listrik ke Ibukota Tokyo dan salah satu pemain nuklir besar di dunia. Perusahaan ini juga memiliki sejarah pelanggaran prosedur keamanan. Namun, tulisan di blog Otsuki mampu menggambarkan kebesaran hati 50 rekannya yang ditinggalkan, yang kini disebut sebagai Fukushima 50.
Mereka berada di garda terdepan, berjuang menghentikan krisis nuklir dan mengurangi kebocoran radiasi. Mereka rela terpapar radiasi tinggi yang berujung pada pembentukan sel kanker, bahkan kematian. “Sebagai kru di reaktor nomor dua, saya juga menghadapi krisis ini hingga perintah evakuasi datang,” lanjutnya.
“Saat alarm tsunami berbunyi (Jumat, 11/3) malam, kami terus bekerja meski tak bisa melihat kemana arah kami. Kami berusaha menstabilkan reaktor tempat kami berada, dekat laut. Sangat sadar bahwa kapan saja kematian bisa datang,” lanjut Otsuki.
“Mesin pendingin berada di dekat laut dan rusak karena tsunami. Semua bekerja setengah mati untuk memulihkannya, sambil menghadapi kelelahan dan perut lapar. Kami menyeret diri kami untuk kembali bekerja. Banyak yang tak tahu kabar keluarganya, namun kami dihadapkan pada situasi ini dan harus bekerja keras.”
Di akhir kata, Otsuki menyatakan pesan ini disampaikan, meski hanya satu orang yang membaca. “Semua yang ada di PLTN sedang berjuang, tanpa melarikan diri. Kepada warga sekitar PLTN yang khawatir, saya minta maaf. Saya menulis nama saya, sadar bahwa saya akan mendapat masalah karena hal ini. Saya ingin anda mengerti, ada orang yang bekerja untuk melindungi anda semua.”
Namun, Otsuki akhirnya menghapus isi curhatnya dan memblokirnya dari pembaca umum, karena merasa pesan-pesannya tak digunakan sebagaimana mestinya. [ast]