Minggu, 27 Mei 2012 | 00:25 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Teror Bom dan Drakula Demokrasi
Oleh:
web - Senin, 27 Juli 2009 | 11:44 WIB
Menarik sekali mengamati perilaku media televisi pascaledakan bom di Mega Kuningan. Mereka tidak mempedulikan lagi proses pemilu yang makin semrawut dan kian kacau, setelah MA membongkar pendapatan kursi parpol. Sembilan hari pascapilpres semua berkutat dengan tayangan teroris. Mengapa?

Uniknya berita yang ditayangkan hanya pengulangan-pengulangan tanpa kemajuan berarti. Bahkan saat SBY menuduh media memelintir pidatonya, media tidak menyangahnya. Tuduhan SBY tersebut seperti dibenarkan begitu saja.

Setelah Komisi Pemilihan Umum menetapkan rekapitulasi akhir pun televisi hanya memberitakannya selintas. Padahal teror drakula demokrasi lebih kejam daripada teror drakula bom, karena drakula demokrasi telah meluluhlantakkan seluruh sendi berbangsa dan bernegara.

Jika rakyat tidak diperingati, maka setiap pemilu atau pilkada, drakula demokrasi akan terus bergentayangan menghisap rasionalitas dan kepedulian rakyat. Puncaknya, rakyat tidak peduli pada demokrasi. Atau inikah bukti media sudah dikuasai drakula, setelah pemboikotan terhadap iklan politik Mega-Prabowo?

Abdullah Ikhsan
ikhsanabdullah@ymail.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Drakula beneran
Selasa, 28 Juli 2009 | 10:04 WIB
Saya menggarisbawahi Abdullah Ikhsan. Mari lebih spesifik dng merujuk TVone dan Metrotv. Saya mulai muak disuguhi berita ulangan(yg belum tentu valid) terkait bom. Pemberitaan pilpres yg mempunyai bobot tinggi untuk perkembangan demokrasi secara drastis mulai ditinggalkan mereka. Ini berawal dari kasus siaran talkshow bersama mantan Kadensus 88 yang hilang dengan sendirinya, dan anehnya tanpa penjelasan dari TVone. Proses pilpres masih di MK, tapi aroma budaya "telepon" zaman Soeharto sudah mulai kita rasakan kembali.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.