INILAH.COM, Jakarta - Bagi agro industri, krisis ekonomi global benar-benar terasa pahit. Akibat turunnya permintaan crude palm oil (CPO), selama semester I tahun 2009 harga jual kelapa sawit rata-rata turun 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini diperparah lagi kebijakan beberapa negara yang menaikan tarif bea masuk impor CPO. Kesimpulannya, selama semester I 2009 nilai rapor perusahaan-perusahaan perkebunan tidak sebaik semester I 2008.
PT Astra Agro Lestasri (AALI) contohnya. Sepanjang enam bulan terakhir, anak Grup Astra ini hanya mampu membukukan pendapatan Rp 3,5 triliun atau turun 24% dibandingkan tahun sebelumnya. Padahal, pada periode yang sama perusahaan ini mampu meningkatkan produksinya hingga 3% lebih.
Nah, bagaimana prospek emiten agro ke depan? Apakah akan tampil lebih baik atau seperti semester I? Menurut sejumlah analis, masih ada ruang bagi emiten perkebunan untuk menggenjot pedapatannya di sementer II.
Maklum, menjelang Ramadhan dan Indul Fitri, permintaan CPO di pasar internasional, seperti dari Pakistan dan negera-negara Islam lainnya, bakal menggeliat. Konsumsi minyak goreng di dalam negeri juga bakal naik. Permintaan di akhir tahun biasanya tinggi, kata seorang analis.
Melihat faktor-faktor tadi, ada kemungkinan saham perkebunan akan naik menjelang September sampai akhir tahun. Jadi, para investor tidak usah keburu panik dan melepas saham perkebunan mereka sekarang.
Yang perlu diperhatikan, pergerakan saham perkebunan biasanya lebih lambat dibanding saham-saham yang lebih diintai para spekulan. Oleh karena itu, analis tadi menyarankan, investasi di saham sektor ini dilakukan untuk jangka panjang. Kalau untuk jangka pendek sebaiknya jangan, timpalnya. [E1]