INILAH.COM, Jakarta - Ledakan bom yang mengguncang Indonesia sulit ditangkal karena para pemimpin jaringan pembom masih berada di Indonesia. Para pelaku pun selalu patuh pada perintah pimpinannya.
"Ya karena yang mengundang itu dari Indonesia. Seperti Dulmatin, Hambali, dan Zulkarnaen. Ketika Hambali sebagai pemimpin Al Qaeda di Asia Timur tertangkap, Noordin mengaku sebagai pengganti Hambali. Itu dokumennya ditemukan di luar negeri, " ujar pengamat intelijen Dynno Chressbon kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (31/7).
Dengan adanya kepemimpinan itu, maka Indonesia selalu menjadi sasaran bom. "Itulah mematahkan anggapan mengapa tidak mengebom saja di Malaysia. Mereka juga masuk dalam organisasi Daulah Islam Nusantara yang pusatnya di Indonesia. Peledakan tujuan mengislamkan Indonesia, sebagai indikator keberhasilannya. Kalau Indonesia sudah bisa dikuasai, maka negara sekitar seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand juga akan dikuasai," jelasnya.
Sementara itu, terkait munculnya blog berisi pernyataan Noordin M Top yang mengaku dirinya pelaku pemboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Dino menilainya sebagai suatu bentuk laporan. Noordin berusaha melapor kepada 'user' alias penyandang dana, bahwa tugas meledakkan bom berhasil dilaksanakan.
"Itu laporan kepada 'user', bahwa tugasnya sudah selesai," imbuhnya. [mvi/fiq]