Minggu, 27 Mei 2012 | 07:05 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tujuh Saham Bakrie Kuasai Bursa
Headline
inilah.com /Agung Rajasa
Oleh: Ahmad Munjin & Asteria
web - Jumat, 31 Juli 2009 | 13:49 WIB
INILAH.COM, Jakarta Tujuh saham Grup Bakrie kembali mendominasi pergerakan bursa, dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,536 triliun, atau 60,40% dari total transaksi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun melesat ke level tertingginya tahun ini.
Pada perdagangan Jumat (31/07) sesi siang, IHSG menguat 0,89% ke level 2.318,539. Sedangkan indeks LQ 45 menguat 0,77% ke level 454,375. Transaksi di Bursa Efek Indonesia mencatat volume perdagangan sebesar 6,909 miliar saham, senilai Rp 5,855 triliun dengan total transaksi 85.480 kali. Sebanyak 81 saham naik, 100 saham turun, dan 53 saham stagnan.
Sektor aneka industri mengkontribusi penguatan birsa terbesar dengan naik 3,35%, disusul sektor tambang yang naik 3,2%, industri dasar 2,1%, manufaktur 1,4%, keuangan 1,12%, perkebunan 1%, dan perdagangan 0,4%. Sedangkan tiga sektor yang masih memerah adalah sektor konsumer, properti dan infrastruktur.
Transaksi saham Grup Bakrie mendominasi bursa. PT Bumi Resources (BUMI) mencatatkan nilai transaksi terbesar mencapai Rp 2,763 triliun, atau 47,1% dari total nilai perdagangan bursa Rp 5,85 triliun. Siang ini, BUMI ditutup naik 12,37% menjadi Rp 2.725.
Sedangkan saham PT Bakrie & Brothers (BNBR) yang mencatatkan nilai transaksi Rp 192,235 miliar, menguat 4,21% ke level Rp 99, dan PT Energi Mega Persada (ENRG) dengan nilai transaksi Rp 176,715 miliar, stagnan di Rp 360.
Sementara saham PT Bakrieland Development (ELTY) dengan nilai transaksi Rp 145,216 miliar, turun 2,77% ke level Rp 350, serta PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) dengan nilai transaksi Rp 142,387 miliar, naik 3,89% ke level Rp 800.
Adapun saham PT Darma Henwa (DEWA) dan PT Bakrie Telecom (BTEL) mencatatkan nilai transaksi masing-masing Rp 64,441 miliar dan Rp 52,782 miliar. Namun, pergerakan emitennya terpantau stagnan di level Rp 210 dan Rp136.
Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities menuturkan, indeks saham masih berpotensi menguat hingga penutupan sore nanti, meskipun telah membukukan kenaikan yang signfiikan, bahkan menembus level psikologis 2.300.
"IHSG akan bergerak dengan level support 2.286 dan 2.326. Sedangkan level resistannya adalah 2.359, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (31/7).
Menurutnya, saham likuid BUMI masih akan menjadi pendorong penguatan IHSG, mengingat peluang resistan berada di level Rp 2.875 per unitnya. Apalagi, saat dibuka, BUMI sudah mengalami gap sehingga saham batubara thermal ini berpotensi menuju ke level 3.025. Dalam jangka menengah pun, trend BUMI bullish, ujarnya.
Penguatan BUMI dipicu kabar bahwa perseroan akan menambah penerbitan obligasi konversi menjadi US$ 375 juta dari target semula US$ 200 juta. Obligasi tersebut bertenor lima tahun dan jatuh tempo 2014 dengan kupon 9,25% per tahun.
Meksipun pelaku pasar masih mengkaji keuntungan dan dampak aksi korporasi ini, sentimen positif sudah mendahului pasar. Terutama untuk pembelian besar-besaran terhadap BUMI yang dilakukan investor asing, diikuti oleh investor lokal,katanya.
Dalam sepekan ini, lanjutnya, asing terpantau melakukan net buy terhadap saham BUMI. Harga minyak yang sempat turun ke level US$ 63 per barel, tidak membuat BUMI terkoreksi pada perdagangan kemarin. Apalagi perekonomian global sudah menunjukkan indikasi perbaikan. Asing masih melihat, untuk berinvestasi di Indonesia masih baik, imbuhnya.
Gina masih merekomendasikan beli untuk saham PT Bumi Resources (BUMI), serta PT Aneka Tambang (ANTM), PT International Nickel International (INCO), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Jasa Marga (JSMR) dan PT Telkom (TLKM). Saham-saham itulah yang paling potensial menguntungkan, pungkasnya.
Sementara tim riset Indo Premier Securities menilai, IHSG masih berpotensi bergerak naik, namun dalam kisaran terbatas. Menurut mereka, profit taking merupakan langkah sehat untuk IHSG yang sudah naik cukup banyak. IHSG berpotensi bergerak dalam kisaran 2250-231o, jelasnya.
Adapun beberapa saham yang menjadi pilihan berasal dari tiga sektor, yaitu perbankan, infrastruktur dan tambang. Hal ini terkait ekspektasi penurunan suku bunga BI rate. Saham-saham yang mendapat rekomendasi Indo Premier adalah PT Telkom (TLKM), PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), PT Bukit Asam (PTBA) dan PT United Tractor (UNTR).
Juga saham semen seperti PT Semen Gresik (SMGR), PT Indocement (INTP), PT Semen Holcim (SMCB), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Mandiri (BMRI). Saham-saham ini masih berpeluang menguat, imbuhnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.