INILAH.COM, Jakarta Sepekan ini PT Bumi Resources (BUMI) melejit 36,6% dan membukukan pencapaian fantastis. Rencana perseroan menerbitkan convertible bond, berhasil mendongkrak sahamnya sehingga mendominasi transaksi bursa dalam dua sesi terakhir pekan ini.
Sejak awal pekan ini, saham BUMI bergerak sangat lincah dan menjadi perburuan investor. Pada perdagangan hari pertamanya, Senin (27/7), BUMI naik Rp 75 ke level Rp 2.125.
Harga minyak dunia yang mendekati level US$ 70 per barel menjadi indikator yang mengerek naik saham pertambangan, sehingga sektor ini membukukan kenaikan 2,2%. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ditutup menguat 1,07% ke level 2.209,101.
Kenaikan BUMI juga dipicu kabar bahwa perseroan tengah giat mengincar mitra strategis untuk mengelola tambang emas, tembaga, timah hitam dan seng milik mereka. Hal ini menyusul roadshow BUMI di delapan kota AS yakni New York, Boston, Plainsboro, Chicago, Des Moines, Denver, San Fransisco, dan Los Angeles.
Saat ini, perseroan sudah memiliki beberapa mitra strategis, seperti Tata Power dari India yang mengelola PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. Kemudian Mauritian JV yang mengurus tambang bijih besi milik BUMI di Mauritania.
Kabarnya, mitra strategis yang dicari kali ini untuk mengembangkan tambang seng dan timah hitam milik Herald Resources Ltd.
BUMI masih melanjutkan penguatan pada perdagangan keesokan harinya, Selasa (28/7). Emiten ini membukukan kenaikan Rp 125 menjadi Rp2.250, dengan intraday cukup lebar Rp 2.100 dan Rp 2.275.
Saham batubara ini terpantau aktif diperdagangkan di lantai bursa, dengan mencatatkan transaksi terbesar di pasar mencapai Rp 1,3 triliun, atau 23% dari total transaksi di bursa Rp 5,672 triliun.
Investor memburu BUMI mengantisipasi pembagian cum dividen. Seperti diketahui, BUMI akan membayarkan dividen pada 18 Agustus 2009 sebesar Rp 50,60 per lembar dengan cum dividen pada 29 Juli 2009. Adapun BUMI sejak 2005 telah membagikan dividen 6 kali, termasuk dividen spesial pada 2007.
Sedangkan sentimen positif lain berasal dari rencana gabungan tiga perusahaan energi dalam konsorium Grup Bakrie, yaitu PT Bakrie Power, PT Kaltim Prima Coal, dan BUMI untuk membangun PLTU berkapasitas 2x100 MW di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Namun, setelah menguat dua hari, BUMI pun terpaksa turun. Pada perdagangan Rabu (29/7), BUMI terpantau terkoreksi Rp 50 menjadi Rp 2.200, seiring turunnya harga minyak dunia ke level US$ 67,23 per barel.
Harga komoditas juga ikut kembali melemah setelah China dispekulasikan akan menahan kredit perbankan sehingga akan menurunkan permintaan terhadap komoditas. IHSG pun ditutup melemah 0,50% ke level 2.225,812, dengan sektor tambang memimpin koreksi bursa dengan turun 1,7%.
Pada perdagangan Kamis (30/7), muncul kabar bahwa BUMI berencana menerbitkan convertible bond senilai US$ 200 juta atau Rp 2 triliun untuk mencari dana. Hal ini langsung mengangkat kembali saham BUMI Rp 225 menjadi Rp 2.425, setelah sebelumnya sempat menyentuh angka tertinggi di Rp 2.450.
Transaksi pun terpantau meningkat, dengan volume 905 juta lembar saham, senilai Rp 2,1 triliun dan frekuensi 18,326 kali. Pihak asing mulai merendahkan pesimisme dari saham bakrie, terlihat dari aliran masuk ke BUMI meskipun di hari ex-dividend.
Obligasi konversi tersebut memiliki masa jatuh tempo 5 tahun dengan bunga 9-9,5% per tahun dan perseroan menggaransi pelunasan seluruh obligasi tersebut hingga jatuh tempo 2014.
Pencarian dana ini akan dilakukan melalui perusahaan khusus (Special Purpose Vehicle/SPV), yaitu Enercoal Resources Pte Ltd yang sahamnya 100% dikuasai BUMI. Penerbitan obligasi konversi ini diperkirakan akan membuat posisi kas perseroan lebih tebal, karena seluruh dana hasil penerbitan obligasi konversi masuk ke kantong BUMI.
Bahkan di akhir pekan ini, BUMI terus melesat dan bersama dengan saham grup Bakrie lainnya memberi kontribusi besar bagi lonjakan IHSG. Saham BUMI melesat Rp 375 menjadi Rp 2.800 setelah menyentuh harga tertinggi di Rp 2.875. Transaksi tercatat sangat besar, dengan nilai mencapai Rp 3,9 triliun atau 39,4% dari total transaksi bursa Rp 9,97 triliun.
Salah satu penyokong kenaikan BUMI berasal dari penambahan obligasi konversi menjadi US$ 375 juta dari target semula US$ 200 juta. Senior Vice President Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava, memaparkan obligasi konversi yang jatuh tempo pada 2014 itu dijajakan secara tertutup kepada pemodal strategis dengan kupon 9,25%.
Jika diasumsikan harta rata-rata tertimbang pada 28-30 Juli sebesar Rp 2.300, berarti minimal harga konversi obligasi itu di level Rp 2.990 per saham. Perseroan menargetkan pekan depan obligasi diterbitkan dan menunjuk Credit Suisse Singapore sebagai agen penjual obligasi tukar. Acuan harga saham dalam konversi obligasi tersebut 30% lebih tinggi dari rata-rata harga tiga hari terakhir saham BUMI sebelum tanggal penerbitan. [E1]