Tak ada pesta yang tak usai. Begitulah kata sebuah pepatah. Tapi pesta di bursa saham kini kelihatannya memang belum selesai, karena yang ada barulah jeda sementara.
Itulah kesimpulan dari sejumlah analis dan kepala riset dari beberapa perusahaan sekuritas. Mereka begitu optimistis, indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berpotensi menguat. Bahkan, kata mereka, ada kemungkinan di akhir tahun nanti IHSG akan menclok di level 2.600. Mimpikah ini?
Tidak juga. Di saat pasar sulit ditebak seperti sekarang, segala hal memang bisa saja terjadi. "Coba, siapa yang menduga minggu lalu indeks bisa melesat ke 2.323?" kata seorang analis. Hanya saja, lanjut sang analis, rally kelihatannya akan berhenti sementara.
Alasannya, penguatan sudah mendekati puncak. Bahkan harga sejumlah saham sudah naik melampaui target yang dipatok oleh para pelaku pasar. Sehingga, kemungkinan terjadinya aksi ambil untung sangat terbuka lebar.
Apalagi, penguatan yang terjadi pekan lalu tak lepas dari aksi para pedagang asing dan lokal yang biasa bermain cepat. Asal tahu saja, dalam seminggu kemarin, asing sudah mencatatkan pembelian bersih hingga senilai US$ 3,8 miliar. Dana yang masuk itu diperkirakan merupakan dana jangka pendek alias hot money. Dan mereka (asing) dipastikan akan segera merealisasikan keuntungannya, yang sudah berada di atas 10%.
Lantas apa yang mesti dilakukan investor dalam kondisi seperti ini? Jawabnya cuma satu: Menunggu! "Sebaiknya sabar menunggu sampai harga saham terkoreksi," kata seorang kepala riset di sebuah perusahaan sekuritas asing. Pembelian, kata dia, sudah layak dilakukan jika indeks sudah kembali ke bawah level 2.300.
Setelah terjadi koreksi, bursa diperkirakan akan kembali marak. Sebab, memang masih cukup banyak sentimen positif yang bertiup dari dalam dan luar negeri. Dari luar negeri, misalnya, harga minyak dan sejumlah komoditas pertambangan dan perkebunan diyakini akan membuat bursa di mancanegara (termasuk Wall Street) terus menghijau. Dan ini, tentu, akan berdampak positif bagi Bursa Efek Indonesia.
Sedangkan dari dalam negeri, selain stabilnya perekonomian nasional dan menguatnya mata uang rupiah, bursa akan terus dihangatkan oleh tingkat inflasi yang sangat terkontrol dan pemangkasan tingkat bunga.
Makanya, ketika koreksi sudah terjadi, investor disarankan untuk mencermati saham-saham perbankan, pertambangan, dan perkebunan. Dari sektor pertambangan, dua saham dari Grup Bakrie (BUMI dan ENRG) tetap mendapat rekomendasi teratas. Sebab, menurut perhitungan analis, BUMI masih berpotensi bergerak ke arah Rp 3.100 dan ENRG ke Rp 460.
Akan halnya dari perbankan, saham Bank BCA (BBCA) patut dipertimbangkan, karena harganya berpotensi naik ke Rp 4.050. Sedangkan dari perkebunan ada UNSP (Bakrie Sumatra Plantation) yang layak dibeli karena masih menjanjikan gain sedikitnya 15%.
Akan terbuktikah kalkulasi para analis itu? Kita lihat saja nanti di pasar! [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !