INILAH.COM, Jakarta - Sekitar 250 karyawan PT Bank Akita mogok kerja Rabu (5/8), karena manajemen dari perusahaan yang telah diakusisi oleh Barclays Bank Indonesia itu mengeluarkan kebijakan sepihak sehingga merugikan karyawan.
"Kami jelas dirugikan karena manajemen Barclays Bank Indonesia tidak komit dengan janji awalnya merekrut semua karyawan Akita ketika lembaga perbankan itu akan diakuisisi ," kata seorang karyawan Akita, Agus di Kantor PT Bank Akita di Jalan Samanhudi No 17 depan Gereja Ayam Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).
Agus adalah salah seorang karyawan Bank Akita yang sudah belasan tahun mengabdi pada lembaga perbankan swasta itu bersama 200 ratusan karyawan lainnya antara lain Hapipi, Budi Setiawan, Windi, Endang S, Emil, T Wisnu Suparjono, Rastono, Parlin, Dedi, Chaerullah dan Magdalena. Berikutnya Hastono, Lyana, Fajar, Eva, Liza, Resky Sonny, Giotwi Netti, Hendrik Cora, Sannur F dan lainnya. Sekitar 200 karyawan itu mogok bekerja kecuali aktivitas clearing, teller dan customer service.
"Kami diperintahkan Direktur Operasional dan SDM Bank Akita Vera Lugito untuk kembali ke ruang masing-masing dan bekerja tetapi semua karyawan menolak," katanya.
Mogok, menurut mereka, dilakukan karena semula Barclays Bank Indonesia berjanji akan merekrut seluruh karyawan Akita dan kesejahteraan mereka juga akan ditingkatkan.
Akan tetapi semua janji tersebut tidak ditepati Barclays, bank PLC yang berkantor pusat di London itu sehingga seluruh karyawan Akita melalui Forum Komunikasi Karyawan Bank Akita (FKK-BA) membuat pernyataan bersama kepada manajemen untuk menolak memo intern Barclays.
Memo intern sebanyak enam butir yang bernomor 035/AK/MI-DIR/V/2009 pada 1 Mei 2009 mengenai pengkajian atau assesment itu memuat aturan sepihak dan terkesan menggiring karyawan untuk mengajukan pemutusan hubungan kerja sendiri.
"Sebanyak enam aturan sepihak itu jelas menggiring kami agar segera mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Pengunduran diri karyawan diatur guna mempertahankan reputasi bank itu di mata pemerintah agar mereka (Barclays, red) tidak dinilai negatif atas PHK yang akan dilakukan," kata mereka.
Harga diri karyawan , sebagai anak bangsa dilecehkan Barclays demi kepentingan asing perusahaan tersebut ingin melaksanakan bisnis di Indonesia tetapi tidak beretika.
Jika mereka mengundurkan diri atau dipecat secara terhormat, jelas ratusan kepala keluarga akan terancam 'menjadi gelandangan' dan anak-anaknya putus sekolah sekolah. "Lalu dengan apa lagi kemampuan untuk melanjutkan kehidupan keluarga dan membayar semua kewajiban perdata atas aneka kredit atau utang yang telah dibuat karyawan Akita dengan pihak ketiga," kata Agus yang didukung rekan-rekanya itu.
Kebijakan sepihak manejemen Barclays jelas tidak manusiawi dan menghancurkan masa depan karyawan.
Menurut mereka , sudah ada 50 karyawan Akita yang direkrut oleh Barclays tetapi kenyataannya lagi kesejahteraan mereka masih jauh lebih rendah dari karyawan yang direkut sendiri oleh Barclays.
Sementara itu dalam edaran memo intern yang ditandatangani Direktur Operasional dan SDM Bank Akita Vera Lugito dan Kepala SDM Barclays Marta Jonatan disebutkan antara lain bahwa bagi karyawan yang dinilai sesuai dengan role profile dan struktur yang ada di Barclays, maka mereka akan mendapatkan penempatan diposisi baru.
Karyawan tersebut akan menandatangani perjanjian kerja dengan uraian pekerjaan baru. Bagi yang belum sesuai dengan role profile akan mendapatkan on the job training.
Bagi karyawan yang mengundurkan diri akan mendapat uang pesangon sebesar dua kali gaji sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja (PMTK).
Seluruh karyawan yang mogok sempat mendapat perhatian manejemen hingga petinggi lembaga keuangan swasta itu turun berdialog namun tidak memberikan jalan keluar.
Petinggi yang berhadapan dengan karyawan yang mogok tersebut adalah Vera Lugito, Pimpinan Cabang Akita di Samanhudi, Pimpinan Cabang Menteng Joko Mulyadi dan Wakil Pimpinan Cabang Bidang Kredit Herman Wiryanto. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !