INILAH.COM, Jakarta - Ketua KPK non-aktif Antasari Azhar membuat testimoni dan menyebutkan dua pimpinan KPK menerima suap. Hal itu dinilai PKS sebagai upaya Antasari yang sudah tenggelem melakukan cawe-cawe terhadap pimpinan KPK lainnya.
"Perbuatan Antasari ibarat orang mau tenggelam lalu cawe-cawe (ngajakin) supaya orang lain ikut tenggelam, ini tidak baik," ujar Ketua Dewan Pakar PKS Soeripto di Gedung DPR, Senayan, Jumat (7/8).
Menurutnya, saat ini ada skenario besar yang dimainkan oleh konglomerat dan koruptor hitam yg ingin membuat KPK menjadi tidak bergigi. Skenario ini bsa melibatkan ekskutif, legislatif maupun para penegak hukum, semua bisa terlibat dalam konspirasi," ungkapnya.
Wakil Ketua Komisi III DPR ini mengatakan, hal yang lebih menarik perhatian dari kasusu itu adalah kenapa Antasari tak pernah membicarakan pertemuan dengan Anggoro di Singapura dan soal testimoni itu kepada pimpinan KPK lainnya. Hal itu dinilainya sebagai kejahatan sendiri.
"Mereka mengatakan ini fitnah. Harus diusut pula surat palsu itu supaya jelas. Polisi harus tetap profesional sehingga jangan sampai terjadi politiking kasus dalam hal ini.
Dalam testimoninya, Antasari mengatakan dirinya pergi ke Singapura menemui tersangka kasus Sistem Komunikasi Radio Dirut PT Masaro, Anggoro Widjojo untuk mencari tahu kebenaran informasi yang diterimanya bahwa kasus MASARO telah diselesaikan oleh oknum KPK dengan PT Masaro. Anggoro pun mengakui kepada Antasari ada dua pimpinan KPK yang telah menerima suap darinya untuk menutup kasusnya. [mut]