INILAH.COM, Jakarta - Toyota boleh saja berjaya dengan mobil hybrid Prius generasi ketiganya. Namun tak berarti mobil listrik akan mati. Sebaliknya, mulai bersaing sebagai mobil 'terhijau' alias paling ramah lingkungan di dunia, karena memiliki emisi gas buang nol. Akankah Volt, i-Miev, dan Leaf, menjadi jawaban sebuah mobil yang sempurna?
Awal Agustus ini Nissan melucurkan mobil listriknya. Bersama partner produsen otomotif asal Prancis Renault SA, pabrikan mobil asal Jepang terbesar ketiga ini telah bekerjasama secara agresif untuk menciptakan mobil list sekaligus mencanangkan rencana untuk memproduksi masal mobil listrik tapi murah mulai 2012.
Nissan bahkan akan memulai penjualannya di Amerika Serikat (AS) dan di Jepang mulai pertengahan tahun depan. "Hari ini kami merayakan lembaran baru dalam perjalanan berdirinya perusahaan ini," ujar Chief Executive Nissan Carlos Ghosn.
Produk ini diharapkan akan menjadi mobil listrik pertama yang diproduksi masal dengan harga yang dapat dijangkau di kelasnya. Nissan berencana agar Leaf dapat dibuat dan dipasarkan sesuai dengan aturan pajak dan insentif yang berlaku di masing-masing wilayah. Sehingga tak hanya bersahabat dengan lingkungan karena bebas emisi, Leaf juga diharapkan bersahabat dengan dompet calon pembelinya.
Leaf sendiri menggunakan platform yang sama sekali baru yang dirancang sesuai dengan kebutuhan penggunaan baterai lithium-ion. Sebanyak 48 buah modul baterai lithium-ion akan berada di bagian bawah lantai mobil yang dapat menyimpan energi hingga 24 KWh. Rangkaian baterai ini dapat menyediakan energi untuk perjalanan hingga 160 km serta berakselerasi 0-100 kpj kurang dari 10 detik.
Pengisian baterainya bisa dilakukan dalam waktu 30 menit untuk mengisi 80% dari total kapasitasnya melalui stasiun pengisian cepat. Sementara jika mengisinya di rumah dengan listrik bertegangan 220 volt, pengisian baterai berlangsung selama delapan jam. Nissan Leaf diperkirakan akan hadir bersamaan dengan kehadiran Chevrolet Volt.
Sementara itu mobil listrik i-Miev Sport yang baru saja dipajang oleh Mitsubishi di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2009 masih mengalami kesulitan untuk masuk ke tanah air, karena masalah infrastruktur yang membutuhkan stasiun pengisian ulang baterai dan insentif pajak akibat tingginya bea masuk.
"Kami belum tahu kapan akan membawa i-Miev Sport ke Indonesia. Maintenance cost (biaya perawatan) dan harga jual harus kita pertimbangkan selain infrastruktur," ujar Presiden Direktur PT KTB Fumio Kuwayama.
Ia menambahkan bahwa jika i-Miev Sport dipasarkan di Indonesia dengan situasi seperti sekarang, maka mobil listrik mungil ini dibandrol Rp 800 jutaan. "Harga ini jauh dengan harga i-Miev Sport di Jepang yang dipasarkan dengan harga dua jutaan yen atau sekitar Rp 200 jutaan, karena adanya insentif dari pemerintah Jepang," ujar Fumio.
Mobil listrik memang belum sepopuler mobil hybrid yang menggabungkan mesin BBM dengan motor listrik. Mobil listrik malah pernah disudutkan oleh segelintir pihak, ketika raksasa otomotif dunia saat itu General Motors (GM) mulai memproduksi secara masal mobil listrik di AS.
Sejak 24 Maret 1995 pemerintah AS khususnya di negara bagian California mendapat persetujuan dari Kongres untuk pemberlakuan kebijakan Zero Emission Mandet. Salah satu poin penting di dalamnya yang menuai aksi protes keras dari industri otomotif adalah menyangkut pembatasan pengoperasian kendaraan BBM di Negera bagian California dengan kebijakan 10 berbanding 1. Artinya, untuk setiap produsen yang menjual 10 unit mobil BBM diwajibkan menjual 1 unit mobil Zero Emission Vehicles (ZEV).
Meski ketentuan ini menyulitkan, namun ketika GM mendapat mandat dari pemerintah California untuk memproduksi mobi listrik, GM tidak tanggung-tanggung mengeluarkan investasi senilai US$ 1 miliar. Dengan teknologi mobil listrik yang berbasis pada batterai operate yang disertai pengembangan infrastruktur charging itu GM pun sukses.
Langkah GM ini diikuti produsen otomotif lainnya, seperti Peugeot, Toyota, Honda, Nissan, Chevrolet, dan Chrysler. Namun tanggal 24 April 2003 adalah akhir dari segalanya peredaran mobil listrik di California, ketika kebijakan Zero Emission Mandet dicabut tanpa alasan yang jelas.
Meskipun begitu, melihat kemajuan teknologi, pemanasan global, isu krisis energi, dan antusiasme yang tinggi dari konsumen maupun produsen untuk mobil ramah lingkungan, mobil listrik diprediksi akan berdiri sejajar dengan mobil hybrid dalam beberapa tahun mendatang.
Bahkan lembaga konsultan Frost & Sullivan memprediksi bahwa di 2015 nanti populasi mobil listrik di Asia Pasifik akan mencapai 169.000 unit. "Produsen mobil dalam beberapa tahun ke depan akan fokus membuat mobil murah (low cost) dan mobil dengan mesin hemat BBM serta ramah lingkungan," ujar Partner and Head of the Automotive, Tranportation, and Logistics Practice, Asia Pacific Frost & Sullivan, Kavan Mukhtayar. [P1]