INILAH.COM, New York Bagi orang awam, intelijen adalah sesuatu yang bersifat sangat rahasia. Bahkan mungkin informasi intelijen akan dibawa hingga mati. Namun, nyatanya, negara yang selama ini dikenal sangat maju di bidang intelijen seperti Amerika dan Israel pun ternyata seringkali mengalami kebocoran dokumen intelijen. Kok bisa?
Israel memanggil pulang Konsul Jenderal di Boston, Nadav Tamir, Minggu (9/8). Pasalnya, diplomat senior di Amerika Serikat itu dianggap telah membocorkan peringatan yang dia berikan kepada Kementerian Luar Negeri. Isinya, kekhawatiran potensi rusaknya hubungan AS-Israel akibat kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Hal itu terjadi setelah pada 6 Agustus lalu, dia tampil di Channel 10 dengan menunjukkan sebuah memo. Dalam memo itu, dia mengingatkan bahaya penolakan Netanyahu memenuhi tuntutan AS. Yakni, untuk membekukan kegiatan pembangunan di permukiman Yahudi di wilayah Tepi Barat yang menjadi wilayah Palestina.
Hingga di sini, orang tentu bertanya-tanya, apakah memo yang dikirimkan itu sifatnya sangat rahasia? Bagi negara yang memiliki kedekatan dengan AS seperti Israel, mungkin ya. Walaupun tidak semua rahasia negara itu bisa dikategorikan laporan intelijen.
Namun, hal itu setidaknya telah menunjukkan bahwa di negara yang dikenal sangat maju memegang kendali keamanan negaranya pun ternyata tak luput dari kebocoran yang dilakukan pejabatnya. Bahkan, AS pun beberapa kali mengalami hal yang lebih 'berbahaya'.
Salah satunya ketika pada Juni lalu militer AS melakukan kecerobohan dengan membiarkan hard disk yang berisi informasi sangat rahasia lolos dari pengawasan. Akibatnya cukup mencengangkan: hard disk itu bisa terjual bebas di situs lelang eBay.
Padahal, hard disk itu berisi rahasia sistem peluncuran roket milik AS yang dikenal dengan THAAD (Terminal High Altitude Area Defence). Sistem ini mampu meluncurkan misil balistik dengan jarak dekat hingga menengah. Kabarnya, sistem yang tergolong baru itu diujikan terakhir kali pada Maret lalu.
THAAD direncanakan akan dikembangkan juga di Tel Aviv, Israel. Tujuannya untuk memperkuat militer Isrel yang selama ini terlibat perseteruan dengan Palestina. Yang membuat pemerintah ketar-ketir, hard disk yang dibeli oleh eBay dari Perusahaan Penelitian Keamanan BT ini tampaknya akan menguak sejumlah rahasia konflik yang akan terjadi di Timur Tengah.
Pasalnya, di hard disk itu juga menyebutkan, selain Israel, negara Uni Emirat Arab telah menghabiskan dana US$ 7 miliar untuk membeli teknologi THAAD. Hal ini tentu semakin mempertegas pernyataan Benjamin Netanyahu yang memperingatkan akan adanya perang besar di Timur Tengah.
Hal yang juga tak kalah hebohnya adalah saat Pemerintahan Federal AS telanjur melakukan kesalahan besar. Sebuah laporan rahasia setebal 266 halaman berisi program nuklir bocor ke publik Juni lalu. Padahal, di setiap lembar laporan tersebut terdapat tulisan 'Top Secret' alias sangat rahasia.
Laporan tersebut berisi rencana ratusan tempat pembangkit tenaga Nuklir AS beserta program-programnya yang beredar secara berantai melalui email. Publikasi itu langsung membuat pakar nuklir berang dan memperingatkan bahaya yang mungkin ditimbulkan.
Di antaranya dari Presiden Institute for Science and International Security (ISIS) David Albright, yang selama ini menyelidiki penyalahgunaan nuklir. Menurut dia, informasi yang menunjukkan lokasi bahan bakar nuklir tersimpan itu dapat memberikan informasi kepada para kriminal dan intelijen asing untuk mengambil bahan baku tersebut.
Hal yang juga tidak kalah mencengangkan adalah saat sebuah data CIA mengenai metode interogasi dengan jalan kekerasan dan pembunuhan terhadap tersangka pelaku terorisme dipublikasikan. Program antiteror digulirkan atas perintah mantan Wakil Presiden Dick Cheney, setelah terjadi tragedi World Trade Center, 11 September 2001.
Yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana informasi dengan stempel sangat rahasia itu bisa bocor kepada publik? Mantan Direktur CIA John M Deutch, menyebut kesalahan-kesalahan seperti ini sudah biasa terjadi.
Penyebab kebocoran, menurut dia bisa karena banyak hal. Di antaranya, karena ada pihak dalam yang menjadi agen dua kaki. Baik untuk kepentingan negara lain maupun perusahaan tertentu. Lawan politik dari pemerintah yang berkuasa saat itu pun bisa jadi merupakan pihak yang berusaha mencari kebocoran itu.
Sementara Steven Aftergood, seorang pakar keamanan di federasi ilmuwan AS di Washington, mengungkapkan keheranannya jika informasi bersifat sangat rahasia bisa bocor. Sebab, seharusnya pemerintah maupun lembaga intelijen telah menyiapkan rencana cadangan jika terjadi kebocoran informasi.
Bagaimanapun, memang sulit memahami dunia intelijen, karena yang mengetahui kebenaran maupun kebohongannya memang pelakunya sendiri. Terlalu tipis perbedaan antara kenyataan dan khayalan. Atau mungkin memang intelijen adalah area bebas rasa percaya? [P1]