INILAH.COM, Jakarta - Dua WNI, Yulius Gah yang juga Staf Konsulat RI Darwin dan Ata Hamid, nelayan asal Kupang kecewa diusir pilot Jetstar. Menurut pihak penerbangan Australia itu, pengusiran terpaksa dilakukan.
Manajer Komunikasi Korporat Jetstar Simone Pregellio mengatakan, keduanya tidak disertakan dalam penerbangan Senin malam karena prilaku agresif Yulius pada awak pesawat.
Hasil investigasi pihaknya menemukan bahwa munculnya masalah tempat duduk itu karena Jetstar tidak mengetahui dari awal bahwa Yulius selama penerbangan bertugas sebagai seorang 'pendamping'.
Menurut Pregellio, pihak Jetstar mengharuskan seseorang yang bertugas sebagai 'pendamping' dalam penerbangan agar memberikan pemberitahuan awal disertai surat tugas kepada staf Jetstar.
"Di bawah definisi pendamping (escort) dan sesuai dengan prosedur baku, para escort diminta dan dialokasikan di awal satu kursi sebelah pinggir," kata Pregellio ketika dihubungi Rabu (12/8).
Mengenai keputusan pilot mengeluarkan kedua warga negara Indonesia itu dari pesawat, dia mengatakan, sikap Yulius yang sangat argumentatif kepada kru Jetstar mendorong pilot untuk mengeluarkan mereka dari penerbangan JQ 0081.
Konsul RI di Darwin Harbangan Napitupulu mengatakan, berdasarkan penjelasan Yulius Gah, tidak benar dia berprilaku agresif seperti dituduhkan pihak Jetstar.
"Justru yang membingungkan kami adalah tindakan staf lapangan (ground staff) Jetstar yang memindahkan nomor kursi mereka dari 28 A/B ke 36 A/B," tuturnya.
Napitupulu mengatakan, dia menugaskan Yulius Gah mengantarkan nelayan asal Kupang berusia 16 tahun, Ata Hamid, sampai ke tangan keluarganya atas permintaan pejabat DIAC di Darwin.
"Masalah tiket dan segala sesuatunya diurus pihak DIAC," tukasnya. [*/ana]