INILAH.COM, Jakarta - Penegasan Presiden Susilo Bambang Yudoyono tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tetap di atas 4% merupakan langkah mencari level aman saja. Batas 4% menunjukan tidak adanya terobosan ke depan saat pemulihan ekonomi mulai terjadi di kawasan Asia.
Hal itu dikatakan pengamat ekonomi dari ECONIT, Hendri Saparini kepada INILAH.COM menanggapi penegasan Presiden SBY soal target pertumbuhan ekonomi dalam Pidato Kenegaraan memperingati hari kemerdekaan RI ke 64, di Gedung DPR RI Jakarta, Jumat (14/8).
"Kalau targetnya hanya 4% ke atas mencerminkan tidak adanya terobosan yang dilakukan pemerintah dalam menggali sumber pertumbuhan ekonomi untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi angka kemiskinan ke depan," katanya.
Padahal, lanjutnya, di kawasan Asia dalam semester II 2009 masuk dalam fase pemulihan ekonomi. Kalau pemerintah tidak mengambil bagian dalam tren tersebut maka sangat disayangkan dengan hanya menargetkan di atas 4%. "Ini hanya mencari aman saja kalau tidak tercapai maka tidak disalahkan rakyat. Pemerintah tidak ada langkah terobosan meningkatkan industri dan sektor riil," lanjutnya.
Dengan melihat perkembangan perekonomian global, maka pemerintah seharusnya optimis pertumbuhan ekonomi harus di atas 6%. Kalau hanya 4% maka saat krisis saja pertumbuhannya di atas 4%. Ini menunjukan pemerintah tidak ada terobosan ekonomi yang akurat.
Hendri menyayangkan pemerintah tidak terbuka dengan masukan tentang sumber-sumber pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi tidak hanya mengandalkan dari ekspor saja. Sebab banyak sekali sumber pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong ke level 6%.
Hal yang sama juga dikatakan pengamat ekonomi dari InterCafe, Iman Sugema. Menurutnya, kalau dalam situasi normal saja pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,8% tanpa melakukan banyak terobosan. "Kalau hanya di atas 4% maka pemerintah hanya tidur saja dapat tercapai," tegasnya yang dihubungi secara terpisah. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !