INILAH.COM, Jakarta - Harapan PT Indika Energy (INDY) mengakuisisi sebagian saham PT Berau Coal kian menipis. Sebab pemilik perusahaan batubara terbesar kelima itu, ternyata, lebih memilih mencari dana dari pasar modal ketimbang dari mitra strategis.
Handy P Soetedjo, Direktur PT Armadian Tritunggal yang memegang 51% saham Berau mengatakan, perusahaan yang dipimpinnya akan melaksanakan penawaran umum perdana pada akhir 2009.
Ia memang tidak menyebutkan jumlah saham yang akan dilepas. Namun, satu sumber di Berau menyebutkan bahwa untuk menjaring dana segar sebesar Rp 2,5 triliun, perseroan akan melepas sekitar 20% saham.
Belum jelas benar, saham siapa saja yang akan dilepas dalam hajatan IPO tersebut. Yang pasti, selain dimiliki Armadian Tritunggal, saat ini saham Berau Coal dikuasai oleh Rognar Holding BV dari Belanda (39%) dan Sojitz Corporation-Jepang (10%).
Hasil penjualan saham tersebut direncanakan akan dipakai untuk meningkatkan produksi dari 15 juta ton per tahun (rencana 2009) menjadi 30 juta ton per tahun pada 2014. Khusus untuk tahun depan manajemen menargetkan produksi akan meningkat menjadi 17 juta ton.
Sebagai perusahaan tambang yang memiliki cadangan hingga 300 juta ton, Berau memang pantas tampil sebagai salah satu produsen batubara yang terkaya di Tanah Air. Sebab, dengan tingkat produksi yang tinggi pun, cadangannya mampu menghidupi perusahaan hingga minimal 11 tahun ke depan.
Tahun lalu saja, dari penjualan 13,5 juta ton batubara di harga rata-rata US$ 46 per ton, perseroan berhasil meraih pendapatan US$ 640 juta. Dari jumlah itu, laba bersih mencapai US$ 90 juta atau sekitar Rp 920 miliar. Akan halnya tahun ini, manajemen menargetkan pendapatan US$ 1 miliar, dengan laba bersih US$ 200 juta.
Lantas bagaimana nasib Indika Energy yang semula beniat untuk menjadi mitra strategis Berau. Inilah yang masih belum terjawab. Tapi, menurut Direktur Berau, kalau masih berminat untuk menjadi pemegang saham, perusahaan manapun bisa ikut membeli di saat hajatan IPO akhir tahun nanti.
Wah? Mungkin, itu pula yang menyebabkan pergerakan harga saham PT Indika Energy yang belakangan ini menguat kembali mengerem. Tapi seorang analis tetap merekomendasikan buy untuk saham ini.
Kata dia, kalau pun batal menjadi pemilik Berau, kinerja Indika tetap menawan. Apalagi harga saham berkode INDY ini, Kamis pekan lalu masih berada di kisaran Rp 2.550. Artinya, masih di bawah harga perdana yang Rp 2.950. Saham ini masih menarik, karena harga batubara akan terus menguat seiring tingginya harga minyak, imbuhnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !