INILAH.COM, Jakarta Saham PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) masih cukup seksi untuk dikoleksi. Target harga saham emiten ini pun dinaikkan seiring kinerja yang sesuai estimasi dan kondisi kas perseroan yang sehat.
Analis dari eTrading Securities Suryadi Candra Kasih memberi rekomendasi positif terhadap ITMG, terkait kinerja perseroan yang sesuai dengan ekspektasi. Di tengah pemulihan sentimen atas aset berisiko, target harga saham ITMG dinaikkan ke Rp 28 ribu dan tingkat WACC (biaya modal rata-rata tertimbang) diturunkan ke 13,4%.
Kami rekomendasikan beli dengan target harga dinaikkan menjadi Rp 28 ribu dari sebelumnya Rp 22 ribu, paparnya. Target harga ini sesuai dengan price earning ratio (PER) yang mengimplikasikan 12 kali pendapatan 2010 serta dividen yield sebesar 10% yang sesuai PER industri sebesar 11-15 kali.
Berdasarkan analyst meeting dengan ITMG, diperoleh data bahwa pendapatan perseroan pada semester pertama 2009, naik 31% menjadi US$ 676 juta. Sedangkan laba bersih naik 129% menjadi US$ 159 juta. Menurut Suryadi, pendapatan dan laba bersih ini mencerminkan 48% dan 62% dari target sepanjang 2009.
Rekomendasi positif juga diberikan Arief Budiman, analis PT Optima Securities. Ia bahkan memprediksi harga saham ITMG berpeluang naik menjadi Rp 33.900 per unit hingga akhir 2009.
Dari posisi perdagangan Jumat (14/8) sesi siang di level Rp 24.800, berarti ITMG masih berpotensi menguat 36,7%, "ITMG masih menarik untuk investor, paparnya.
Arief mengatakan pendapatan ITMG di semester I merefleksikan 50% dari target pendapatan tahun ini US$ 1,36 miliar. Sedangkan laba bersih US$ 159 juta menunjukkan 52% dari perkiraan laba bersih US$ 308 juta tahun ini, imbuhnya.
Rekomendasi Arief didasarkan pada peningkatan harga jual rata-rata dan volume produksi batubara. Hingga Juni 2009, harga jual rata-rata (average selling price/ ASP) batubara ITMG naik 32% menjadi US$ 79,3 per ton dari US$ 60 per ton.
Volume produksi batubara yang tumbuh 6% menjadi 9,3 juta ton (dari 8,7 juta ton), telah mencerminkan 51% dari target produksi sebesar 18,3 juta ton tahun 2009. Sedangkan volume penjualan batubara yang turun 1% dari 8,6 juta ton menjadi 8,5 juta ton, baru mencapai 47% dari target sebesar 18,1 juta ton, papar Arief.
Bila dicermati secara kuartalan, pendapatan ITMG mengalami penurunan. Pada kuartal kedua 2009, pendapatan ITMG merosot 5% menjadi US$ 329 juta dibandingkan kuartal pertama US$ 347 juta. Hal ini disebabkan jatuhnya ASP batubara menjadi US$ 74 per ton, dari US$ 85 pada kuartal sebelumnya.
Suryadi juga menjelaskan, ke depan perusahaan mengharapkan ASP dapat mendekati harga rata-rata pada 2008. Kami mengestimasi jumlah yang sama, US$ 72,4 per ton pada 2008 dan US$ 74,5 per ton pada 2009 dan kami yakin estimasi pendapatan kami sesuai prediksi manajemen, imbuhnya.
Optimisme Suryadi didukung posisi kas perseroan yang sehat sehingga berpotensi besar melakukan akuisisi. Hingga Juni 2009, posisi kas perseroan meningkat menjadi US$ 265 juta dengan utang yang sangat rendah. Saat ini beredar kabar rencana perseroan mendekati Berau Coal, namun langkah korporasi ITMG masih menunggu hasil uji kelayakan (due dilligent).
Kami menilai akuisisi ini positif bagi perseroan karena dapat meningkatkan potensi cadangan selain mencampur produk antara batubara berkalori tinggi milik ITMG dan batubara berkalori rendah milik Berau, ulasnya.
Sedangkan jatuhnya harga saham ITMG baru-baru ini, lanjut Suryadi, tidak merefleksikan hal negatif pada penilaiannya. Pasalnya, akuisisi dapat menjadi katalis kunci pada harga saham sehingga dapat menyesuaikan dengan valuasi saham di sektor industrinya.
ITMG dinilai sebagai perusahaan terbaik dalam segi harga komoditas, mengingat ASP perseroan mengacu pada harga internasional. Namun, Suryadi mencermati siklus kehidupan tambang dan mensinyalir akan ada katalis positif yang membanjiri perseroan, Terutama jika berhasil mendapat perusahaan dengan pasokan batubara besar ke depannya,ujarnya.
Beberapa risiko yang masih berpotensi dihadapi ITMG ke depan adalah kemungkinan tidak mencapai target produksi dan meningkatkan cadangan batubara baik organik atau inorganik. Selain itu, risiko yang mengancam berasal dari jatuhnya harga batubara. Namun kami melihat harga di US$ 50 per ton masih aman untuk perseroan, pungkasnya. [E1]