INILAH.COM, Jakarta - Selama 64 tahun merdeka, perayaan tahunan tak pernah absen dilakukan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Namun, perayaan hanya seremoni belaka. Karena kemerdekaan hakiki dirasa masih menjadi mimpi. Kemerdekaan nyata, masih harus diperjuangkan.
Rangkaian perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tak pernah absen dari pangung kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Masyarakat kelas bawah, ekonomi rendahan, kelompok terpinggirkan hingga masyarakat kuat, ekonomi kelas atas, hingga pejabat tinggi semua ikut merayakannya. Mereka memaknai beragam kemerdekaan republik ini.
Namun pada hakikatnya, kemerdekaan hanya terhenti pada seremoni, sambutan pejabat negara, serta refleksi kritis para cendekia. Setelah itu, selesai. Perayaan kemerdekaan akan bertemu kembali setahun mendatang. Seolah-olah, perayaan kemerdekaan tak membekas, alih-alih melakukan kontestualisasi.
Persoalan bertubi-tubi ini masih menghinggapi masyarakat kebanyakan. Mulai persoalan ekonomi, kesejahteraan, pendidikan, kemiskinan, ketidakadilan masih menjadi sahabat karib kebanyakan warga Indonesia. Rakyat masih belum merdeka menentukan mimpinya. Mimpi berkehidupan layak, pendidikan memadai, serta ekonomi yang terbebas dari rente.
Menurut Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Peoman) Fajdroel Rahman, kemerdekaan hakiki pada akhirnya kebebasan pada setiap orang untuk mewujudkan mimpi tanpa hambatan diskriminasi sipil, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan gender.
Saat ini masih ada diskriminasi dimana-mana, cetusnya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (16/8). Fadjroel pun menuturkan, persoalan terorisme yang muncul di Tanah Air juga tidak terlepas dari persoalan kemerdekaan yang diraih anak bangsa ini.
Ia mencontohkan pelaku bom bunuh diri di Ritz Carlton dan JW Marriott. Mereka belum merdeka. Karena mewujudkan impiannya dengan mematikan kehidupan sosial. Mereka menjadi simbol keputusasaan anak muda Indonesia, tegasnya seraya menegaskan hal itu tidak bakal terjadi, jika akses bagi mereka untuk mewujudkan mimpi lebih mudah.
Fase perjalanan negeri ini pun membawa ke ragam fase transisi satu ke transisi berikutnya. Dari era kemerdekaan hingga era reformasi yang berlangsung 11 tahun lalu. Upaya bangsa menuju perbaikan tata laksana kehidupan berbangsa dan bernegara pun masih belum menemukan posisi stabil.
Kondisi ini pula dicermati gurubesar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ichlasul Amal. Menurut dia, seharusnya demokratisasi dibarengi dengan perbaikan kesejahteraan masyarakat. Reformasi politik harapannya mampu meningkatkan kesejahteraan, imbuhnya.
Mantan Rektor UGM ini juga menilai, persoalan laten yang masih menjadi beban bangsa ini di hari kemerdekaan seperti kemiskinan dan kebodohan. Menurut dia, persoalan tersebut harusnya segera terselesaikan sesegera mungkin.
Kemerdekaan itu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena tidak ada artinya, kalau kemerdekaan tidak mengarah kepada kesejahteraan, cetusnya.
Usia 64 tahun kemerdekaan Indonesia harusnya tidak meninggalkan semangat founding fathers negeri ini. Ideologi pancasila, kemandirian bangsa, solidaritas antarwarga, jangan sampai tergerus di tengah gempuran neokolonialisme baik budaya, politik, maupun ekonomi.
Kesadaran kolektif bangsa ini harusnya memiliki niat sama untuk memerdekan bangsa dan warga negaranya dari segenap keterbelakangan. Dirgahayu Republik Indonesia! [E1]