INILAH.COM, Banda Aceh Sebagai provinsi yang diberi keistimewaan menjalankan syariat Islam, Aceh menjalankan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-64 dengan cara berbeda. Yakni, mengawalinya dengan lantunan salawat badar.
"Ini sebuah keistimewaan bagi Aceh, dan salawat badar ini juga sudah sering kita lakukan mengawali setiap upacara 17 Agustusan sejak 2006 lalu," kata Wagub Muhammad Nazar, di banda Aceh, Senin (17/8).
Selain diawali salawat badar, upacara juga dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. "Nilai keistimewaan Aceh itu terlihat dari sisi religiusnya, yaitu Islam. Apapun bentuk kegiatan yang kita laksanakan mengandung nilai-nilai Islami, termasuk upacara ini," jelas Ketua DPRA Sayed Fuad Zakaria.
Menurutnya, pembacaan salawat badar dan pembacaan ayat suci Al-Quran saat upacara seperti bukan suatu masalah dalam hal protokoler. Fuad Zakaria sendiri dalam upacara itu dipercayakan membaca teks proklamasi. "Ini identitas daerah kita. Lagipula ini tidak bertentangan dengan Undang-undang. Bahkan, sikap nasionalime bangsa kita tidak pudar," katanya.
Pembacaan salawat badar dan ayat suci Al-Quran sendiri mulai dilakukan sejak 2006 setelah diberlakukan UU No 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Saat itu, upacara peringatan kemerdekaan yang pertama dilakukan pascabencana tsunami dan perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah RI. [*/nuz]