INILAH.COM, Jakarta - Kompetisi Pemilihan presiden 2009 usai sudah. KPU resmi memutuskan duet SBY-Boediono menjadi pemenang dalam perhelatan demokrasi kali ini. Lalu kemana baiknya Megawati dan Jusuf Kalla?
Palu penanda kemenangan SBY resmi diketuk Ketua KPU Abdul Hafiz Anshari beberapa saat lalu. Keputusan itu diambil dalam pleno yang tidak dihadiri oleh ketiga pasang capres termasuk SBY-Boediono. "Marilah kita bersama-sama menetapkan SBY-Boediono sebagai presiden dan wapres terpilih dalam pilpres dengan mengucapkan alhamdulillah," kata Hafiz.
SBY-Boediono memenangkan Pilpres 2009 meraih 73.874.562 suara atau 60,80%. Sedangkan Mega-Prabowo meraih 32.548.105 suara atau 26,79%, JK-Wiranto 15.081.814 suara atau 12,41%.
Dalam pleno ini, KPU sengaja tidak mengundang SBY-Boediono menghadiri rapat pleno. Demikian juga halnya dengan para rival SBY-Boediono yakni Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Yang diundang adalah Bawaslu, Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPD, Ketua MA, dan Ketua MK.
Ketidakhadiran SBY-Boediono sebagai presiden dan wapres terpilih dalam acara penetapan ini karena dalam pasal 160 ayat 2 UU No 42/2008 tentang pilpres menyebutkan, hasil penetapan capres-cawapres terpilih harus langsung dilaporkan. Laporan itu diserahkan pada MPR, DPR, DPD, MA, MK, Presiden, partai politik atau partai gabungan yang mengusung pasangan calon dan pasangan capres-cawapres dihari yang sama dengan penetapan.
"Jam 20.00 nanti kita mau menyerahkan laporan ke istana, tapi ke presiden bukan ke capres," tambah anggota KPU I Gusti Putu Artha.
Menanggapi berakhirnya pilpres, SBY mengajak para pihak yang sebelumnya berkompetisi sudah tidak lagi menyimpan perbedaan. "Sekarang saatnya kita bersatu kembali, rukun satu sama lain antara tetangga, sahabat, semuanya," ujar SBY .
Ia menjelaskan sudah saatnya rakyat Indonesia bersatu kembali setelah sempat terpecah-pecah oleh perbedaan parpol dan capres. Di mata Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini, bila ada pihak yang masih berhadap-hadapan dan terus berjarak setelah Pemilu 2009 selesai sudah tidak tepat lagi.
"Oleh karena itu saya senang melihat perayaan di seluruh Indonesia dari layar televisi, mendengar di mana-mana, warna yang muncul adalah Merah Putih, seperti warna yang ada di ruangan ini," tutur SBY merujuk dekorasi kain merah putih yang menutupi dinding berlangsungnya acara silaturahmi.
Lalu kemana sebaiknya Mega dan JK? Pengamat politik UI, Arbi Sanit menyarankan kedua politisi senior itu untuk pensiun dari kancah nasional. "Sebagai itu orang gagal yang bertanggung jawab atas kekalahan partainya itu harus, menyerahkan estafet kepemimpinan ke pihak lain. Mereka itu harus harus pensiun dipolitik, kalau mau main di pinggiran saja," urai Arbi.
Dirinya menyarankan, baik Mega dan JK sudah tidak perlu masuk dalam pemerintahan lagi. Hal ini dikarenakan rakyat memang sudah tidak mempercayainya lagi. "Tidak ada gunanya mereka ikut di pemerintahan, mereka itu sudah tidak dipercaya rakyat makanya tidak terpilih. Baik yang menang maupun kalah, jangan menipu suara rakyat. Itu namanya mensekongkoli sikap rakyat," kata dia.
Sejarawan LIPI Anhar Gonggong menambahkan sebaiknya Mega mengambil posisi bunda bangsa. Sementara JK diusulkan mengurus pendidikan. "Saya mengharapkan, di hari tuanya Mega lebih baik melepaskan diri dari semua kegiatan itu dan menjadi bunda bangsa. PDIP dilepaskannya atau menjadi penasihat partai," ucap Anhar
Menurutnya, keberadaan Mega akan menguntungkan Moncong Putih bila berhasil mencetak kader internal yang bisa menjadi tokoh publik. Kalaupun ingin mengkader sang putri, Puan Maharani, langkah itu juga dianggap lebih baik.
"Kalau JK lebih baik kembali mengorganisir keluarga kembali dalam bidang bisnis atau berbuat lebih bergerak di bidang pendidikan Islam. JK punya beban yang lebih ringan saat lepas dari Golkar. JK bisa jadi penasihat kalau diminta saja oleh partai," ungkap dia.
Akankah keduanya total pensiun dari kancah politik memang belum pasti. Meski sudah menyiratkan akan mengurus pendidikan dan perdamaian, langkah JK juga tetap masih akan menunggu perhelatan Munas Golkar Oktober mendatang.
Sama halnya dengan Mega. Kepemimpinannya di PDIP baru akan berakhir awal tahun depan. Apakah akan ikut cawe-cawe dalam pemerintahan juga masih belum jelas.
Tetapi, publik tetap menunggu sikap kenegarawanan dan kepedulian mereka terhadap nasib bangsa. Berkiprah bagi bangsa tentu saja tidak hanya dari sudut menjadi pemimpin negara. Namun juga bisa dari banyak tempat dan bidang. Dan pastinya langkah itu yang ditunggu publik sekarang. [ton]