INILAH.COM, Makassar - Sebuah pesawat Ranggong Air 09 jenis Boeing 737 seri 400 terbakar di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pagi ini. Walaupun 'menelan' dua korban jiwa dan belasan korban luka, namun insiden ini ternyata tidak membuat panik orang-orang di sekitar bandara. Kenapa?
Pesawat ini mendarat pada Rabu (19/8), pukul 10.27 WITA, dalam kondisi mengeluarkan asap tebal dan pilot tidak dapat mengendalikan pesawat. Sebelumnya, kru pesawat melaporkan dan meminta pertolongan jika mesin sebelah kanan mengeluarkan asap dan peringatan adanya api di mesin pesawat.
Pada saat bersamaan, posisi pesawat berada pada ketinggian 3 kaki. Oleh Petugas Air Traffic Control (ATC) pesawat, diinstruksikan untuk mendarat di Runway 31. Di sana, petugas pemadam kebakaran bandara telah disiagakan di jalan akses masuk runway.
Pesawat ternyata mengalami kerusakan pada tekanan bahan bakar dan membutuhkan pertolongan pada saat mendarat. Sebab, pilot tidak dapat mengendalikan pesawat karena tertutup asap. Pesawat ini kemudian berhasil mendarat dalam kondisi mengeluarkan asap tebal. Dua korban luka berhasil dievakuasi dan dilarikan ke RS.
Dari 105 penumpang yang ada di pesawat itu, dua orang meninggal dunia, 15 orang luka parah dan ringan, serta 38 orang selamat. Api berhasil dipadamkan dengan semprotan air 5.500 liter per menit.
Anehnya, insiden ini ternyata tidak menimbulkan kepanikan, baik penumpang maupun pegawai di lingkungan bandara. Sebab, situasi gawat ini ternyata hanya rangkaian agenda tahunan latihan Penanggulangan Gawat Darurat (PGD) yang digelar PT Persero Angkasa Pura I.
Latihan ini digelar untuk yang ke-56 kalinya dengan Sandi Dirgantara Raharja. Di PT Angkasa Pura I Makassar sendiri, memiliki jadwal latihan rutin. Dimaksudkan sebagai wadah penyegaran dan kesiagaan anggota, jelas Direktur PT Persero Angkasa Pura I Makassar, IBG Winaya. [nuz]