INILAH.COM, Serang - Letusan Gunung Anak Krakatau, di perairan Selat Sunda, sepanjang hari ini sudah mencapai 297 kali dan mengeluarkan bunyi dentuman sebanyak dua kali. Namun, status kewaspadaan atas gunung berapi aktif ini belum diubah.
Letusan gunung itu juga menimbulkan gempa vulkanik dangkal 74 kali, tremor 28 kali dan embusan mencapai 57 kali, kata Kepala Pemantauan Pos Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Anton Prambudi, Rabu (19/8).
Nelayan dan pengunjung, kata dia, diminta untuk tidak mendekati kawasan gunung tersebut. Sebab, gempa terjadi setiap interval 3-15 menit. Kerikil dan batu seberat 1,5 kg yang disemburkan dari kawah Anak Krakatau sangat berbahaya karena suhunya mencapai 1.000 derajat celcius.
Jika menimpa pengunjung atau nelayan yang lewat situ bisa menyebabkan kematian, tegasnya. Apalagi, pada 2001, seorang warga Perancis tewas terkena lontaran lava pijar berupa bebatuan krikil karena dia nekat mendaki kawasan Anak Krakatau.
Sementara, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Departemen Sumber Energi dan Mineral, Bandung hanya memberikan rekomendasi dua kilometer dari titik letusan. Dia mengatakan Anak Krakatau yang meletup sejak 6 Maret 2009 hingga kini masih belum diturunkan statusnya menjadi waspada atau level II.
"Memang, awalnya tidak terlihat aktivitas kegempaan vulkanik dan letusan namun tiba-tiba mengeluarkan lava pijar," katanya.
Karena itu, status Gunung Anak Krakatau masih dalam siaga atau level III dan pengunjung dan nelayan tidak diperbolehkan mendekati kawasan letusan karena berbahaya terkena lontaran bebatuan, kendati selama ini belum ada korban jiwa. [*/nuz]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !