INILAH.COM, Jakarta - Tindakan aparat kepolisian yang akan mengawasi dan membatasi ceramah di Ramadhan dinilai wajar dari sisi psikologis. Jaringan Noordin M Top dikatakan mustahil bersembunyi di gereja.
"Wajar kalau semua orang super hati-hati saat ini. Terlebih lagi polisi. Wajar juga kalau yang diwaspadai umat Islam, karena Noordin M. Top dan kawan-kawan pasti tidak bersembunyi atau berdakwah di gereja," ujar psikolog Universitas Indonesia Sarlito Wirawan kepada INILAH.COM, Jakarta, Minggu (23/8).
Sarlito mengatakan, seharusnya umat Islam sendiri yang dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan melapor ke polisi kalau ada yang mencurigakan. Tetapi karena berkali-kali teroris itu bersembunyi sampai melakukan pengeboman tanpa ada laporan dari umat, maka polisi menjadi super waspada.
"Apalagi dua pembom Marriot-Ritz adalah siswa-siswa dari sekolah biasa (bukan pesantren radikalis) dan Ibrohim pun bukan orang yang berjenggot dan bercelana ngatung," katanya.
Sebelumnya, polisi menyatakan akan membatasi dan mengawasi kegiatan ceramah ramadhan. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah ada upaya penyusupan Nordin M Top dan jaringan teroris lainnya memafaatkan ceramah sebagai upaya perekrutan.
"Nah dalam operasi ini polisi nantinya akan membatasai dan mengawasi isi ceramah ramadhan. Polisi akan memantau agar tidak ada muatan provokasi dan hal-hal yang melanggar hukum. Polisi nantinya akan menempel dalam kegiatan-kegiatan tersebut," tutur Kadiv Humas Polri Irjen Pol Nanan Sukarna. [mvi/bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !