Minggu, 27 Mei 2012 | 07:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pemangkasan Bunga Bank Tersendat
Sektor Riil & UMKM Ekspor Terancam
Headline
inilah.com /Dokumen
Oleh: Ahmad Munjin
web - Minggu, 23 Agustus 2009 | 14:31 WIB
INILAH.COM, Jakarta Perbankan tak kunjung merealisasikan pemangkasan suku bunga deposito dan kredit menyusul kesepakatan 15 bank besar sebelumnya. Sektor riil dan UMKM yang berorientasi ekspor pun terancam. Sektor itu bisa gagal merespons pemulihan awal di AS dan Eropa.
Bambang Soesatyo, Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Indonesia mengatakan jika perbankan nasional tidak segera menurunkan suku bunga, sektor riil dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berorientasi ekspor tidak mampu merespons pemulihan awal di AS dan Eropa.
Padahal, sejatinya sektor tersebut siap merespons munculnya permintaan dari AS dan Uni Eropa (UE). Karena itu, kesepakatan 15 bank besar menurunkan suku deposito dan kredit harus segera direalisasikan. Penurunan suku bunga menjadi hal yang mutlak agar kerusakan ekonomi kita bisa dihentikan, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (23/4).
Saat ini, semangat menurunkan suku bunga baru sebatas wacana. Publik belum tahu kapan realisasinya. Apalagi, skala penurunannya pun belum jelas. Bunga kredit saat ini masih di kisaran 12 -13%. Sementara untuk melahirkan produk yang kompetitif di pasar lokal maupun ekspor, dunia usaha berharap bunga kredit di bawah 10%, tukasnya.
Di sisi lain, lanjut Bambang, pemulihan ekonomi di AS dan Eropa sudah menunjukkan sinyal kuat. Gubernur The Fed, Ben Bernanke, Jumat (21/8) mengatakan, perekonomian AS dan bagian belahan dunia lainnya mulai kembali memasuki trek pertumbuhan pasca krisis finansial global.
Bernanke mengacu trek pertumbuhan itu pada lonjakan Indeks Dow Jones di Wall Street sebesar 155 poin (1,7%). Namun, Ben mengingatkan, konsumen dan para pengusaha masih kesulitan mendapatkan kredit, meski sistem keuangan AS mulai stabil.
Di sisi lain, pada pekan kedua Agustus, Jerman dan Prancis memperlihatkan indikator ekonomi kedua negara itu mulai membaik secara signifikan. Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman mulai meningkat pada kuartal kedua tahun ini menjadi 0,3%. Padahal, pada kuartal sebelumnya, ekonomi Jerman masih kontraksi 3,5%, imbuhnya.
Sementara itu, Prancis melaporkan PDB yang naik menjadi 0,3% dari koreksi 1,3%. Pertubumhan ini dipicu kenaikan indeks produksi 0,3% pada Juni. Menguatnya ekonomi Jerman dan Prancis ini berpengaruh cukup signifikan terutama terhadap formulasi kebijakan pemulihan ekonomi Uni Eropa, ungkap Bambang.
Untuk itu, lanjut Bambang, jika Indonesia ingin mempertahankan pasar produk ekspor di AS dan Eropa, perbankan dan sektor riil sekaligus UMKM harus bekerja sama. Sektor riil dan UMKM butuh kredit modal kerja dengan bunga yang kompetitif agar bisa menghasilkan produk yang juga kompetitif, ujarnya.
Dengan demikian, karena pemulihan awal sudah dimulai di AS dan UE, sektor riil dan UMKM mau tidak mau harus disiapkan sejak dini. Karenanya, jangan terus berwacana tentang penurunan suku bunga. Segera realisasikan, agar perekonomian Indonesia pun bisa pulih, tandasnya.
Prasetijono Widjojo Malang Joedo, Deputi Bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan, dan UMKM, Bappenas mengingatkan, perlunya perubahan besar dalam manajerial penguatan UMKM yaitu menjadi satu atap. Hal ini niscaya untuk mengkoordinasikan pengembangan dan pembiayaan.
"Penguatan UMKM harus dilakukan dengan mengikuti metode PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) yang bersinergi dengan seluruh wilayah di Indonesia, baik pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota," tuturnya.
Ia mengatakan, saat ini, pengembangan potensi UMKM tersebar di berbagai instansi sehingga efektitasnya kurang bisa diukur. Ada UMKM yang di bawah Kementrian koperasi dan UKM, ada yang dibawah Departemen perindustrian, Departemen perdagangan, DKP (Departemen Kelautan dan perikanan), ucapnya.
Hal itu, berimplikasi pada kurang terkoordinirnya kemajuan yang dicapai. Kalau sudah satu atap dalam pengembangan dan pembiayaan, tambahnya, jangkauan program pengembangan bisa luas dan mampu menggapai masyarakat bawah. Apalagi, selama ini UMKM berada hampir di seluruh daerah di Indonesia.
Menurut dia, setelah berada dalam satu atap, untuk memperkuat UMKM pemerintah membutuhkan dana sekitar Rp 10 triliun per tahunnya. "Sehingga dalam 5 tahun ke depan diharapkan akan menumbuhkan sebanyak 40 juta UMKM di seluruh Indonesia," katanya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.