Kamis, 17 Mei 2012 | 04:18 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Awasi Dakwah, Polri Sudutkan Umat
Oleh:
web - Senin, 24 Agustus 2009 | 13:19 WIB
Kasus pemboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton masih berbuntut panjang. Terorisme untuk mendiskreditkan umat Islam ini seolah mendapat momentum yang tepat di bulan Ramadhan. Rencana Polri memasang 'mata'-nya di setiap ceramah mengamini hal itu!

Pada era Orde Baru, bangsa ini memandang komunis sebagai musuh negara. Segala sesuatu yang berbau ajaran ideologinya harus dimusnahkan. Organisasinya terlarang, sedang orangnya dikebiri hak-hak hidupnya. Bahkan untuk mengenyam pendidikan harus ada surat pernyataan terbebas darinya.

"Kita harus waspada terhadap bahaya laten komunis," begitu kira-kira nya bunyi doktrin yang masuk ke setiap anak bangsa.

Sedang di sisi lain, suara umat Islam dibungkam. Belum adanya kebebasan pers membuat banyak kasus pembantaian tak tahu rimbanya. Ada DOM di Aceh, kasus Tanjung Priok, Malari, dan masih banyak lagi baik karena (dianggap) sesat ataupun (dianggap) subversif.

Atas nama Demokrasi dan HAM, Reformasi 1998 menjadi tonggak awal kebebasan berpendapat dan berserikat bagi anak negeri. Beberapa harakah Islam pun bermunculan setelah sebelumnya dihadang dengan represif.

Melihat kenyataan bahwa Islam mulai bangkit meski masih dalam harakah yang berbeda-beda dan belum seiring sejalan, namun tetap membuat Zionist International gusar. Kecilnya peluang membasmi 'jamur yang tumbuh di musim hujan' karena HAM, memaksa kaum kufar memeras otak. Langkah yang paling tepat (menurut mereka) tentu dengan isu terorisme. Suatu perang opini yang paling mujarab untuk membuat umat Islam tersudut.

Itulah sebabnya, Indonesia menjadi target Zionist menghadang kebangkitan Islam dengan berkedok perang melawan terorisme. Apalagi aparat keamanan (Polri) ikut larut terpancing skenario mereka dengan mengawasi ceramah Ramadhan. Padahal justru seharusnya Polri berkoordinasi dan bekerjasama dengan para ustadz dan ormas Islam dalam menangani para teroris itu. Ada rasa waswas di hati umat dalam Ramadhan tahun ini. Wallahu a'lam bishawab.

Widodo
widodo@nhm.co.id
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
4 Komentar
bati
Selasa, 25 Agustus 2009 | 14:35 WIB
@Ian : ente Islam atau nggak??kalo Islam, sini biar ane ajarkan masalah jihad. Ente nggak penah belajar tentang jihad ya?ente nggak tau kalo jihad itu adalah jalan hidup ummat Islam???ente perlu dicuci lagi nih otaknya biar gerti tentang jihad sesungguhnya. Jgn jihad yg diartikan oleh org2 amerika dan antek2nya yg membuat jelek Islam. kalo ente bukan Islam, jgn asal bicara dong...atau ente org Islam Liberal ye??antek2nya ulil absar abdhala kali ye?? for saudaraku M sejuki : Kalau org yg disebut teroris adlh org yg membela kesucian agama dan negaranya, maka saya adlh teroris. Kalau yg disebut radikal itu adlh org yang menentang kemungkaran dan kedzaliman, maka saya adalah org radikal..Hidup Mulia atau mati sebagai syuhada..Allahu Akbar..!!
mafy
Selasa, 25 Agustus 2009 | 11:01 WIB
si Ian / non muslim/negara non muslim takut bener dg Jihad & syariat.Krn mrk akan dirugikan dg syariat yg akan dijalankan sebaik-baiknya oleh MUSLIM. SYAriat & Jihad hukumnya wajin buat org ISLAM. Radikal/moderat adalah hembusan musuh ISLAM. ISLAM agama kebaikan. ISLAM hanya satu yaitu ISLAM yg berpedoman pd AlQuran & Hadis.Benci pd ISLAM lah kok sistem keuangan syariah di pake skrng ini,pdhl itu bagian dr Syariat Islam.ISLAM akan berjaya tdk ada kekuatan yg bisa membendung kebangkitan ISLAM, lihat saja nanti.
M. Sejuki
Selasa, 25 Agustus 2009 | 08:37 WIB
Islam boleh dibantai, dipembantai tidak boleh diberlakukan yang sama. Sipil Islam boleh dibunuh bahkan dengan cara dibombardir (ibu-ibu hamil, anak kecil, rakyat jelata tidak berdosa, pasar dibom, orang pesta kawin dibom, Rumah Sakit dibom, Sekolah dibom dll) seperti yang terjadi di Palestina, Iraq, Afghanistan, sementara sipil musuh tidak boleh dibunuh apalagi dibom. George W Bush Cs sipembantai manusia tidak berdosa tidak dikenakan sanksi hukum apapun, sementara orang-orang Islam banyak ditangkapi tanpa proses peradilan bahkan disiksa. Pokoknya orang Islam itu harus menerima terus perlakuan apapun oleh orang Kafir dan oleh orang-orang Zhalim tanpa boleh melawan sedikitpun. Bagi yang melawan, maka cap "TERORIS" dijamin akan disandang dan akan diburu terus sampai ke manapun. Ya... Allah, hamba sangat haus akan KEADILAN dan KASIH SAYANG-MU. @Untuk saudaraku IAN Anda sebaiknya harus lebih banyak ber-iqra dan belajar lagi sebelum mengeluarkan uneg-uneg.
Ian
Senin, 24 Agustus 2009 | 18:03 WIB
Polri sudah tepat dalam melaksanakan tugasnya, karena memang dakwah2 Islam itu sering menjadi sarana komunikasi terorisme, misalnya saja dakwah2 tentang jihad yang radikal, dakwah2 Islam tentang perlunya pelaksanaan hukum dan perda-perda syariah di tanah air plural ini yang tentu saja menyalahi sistem hukum nasional kita yang berlandaskan demokrasi yang tidak mengenal hukum2 syariah suatu agama atau pun beberapa agama, dan dakwah2 Islam yang seenaknya saja mencap seluruh pihak2 atau agama2 non-Islam adalah kafir atau sesat, padahal setiap pihak dan agama2 mempunyai hak asasi yang merupakan anugerah TUHAN sejak dilahirkan ke dunia, dan dakwah2 Islam tentang hal-hal lainnya! Seluruh dakwah2 inilah khususnya dakwah Islam tentang jihad yang radikal harus diawasi oleh Polri, karena semua ini meresahkan masyarakat terutama masyarakat non-Islam!
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.