Kasus pemboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton masih berbuntut panjang. Terorisme untuk mendiskreditkan umat Islam ini seolah mendapat momentum yang tepat di bulan Ramadhan. Rencana Polri memasang 'mata'-nya di setiap ceramah mengamini hal itu!
Pada era Orde Baru, bangsa ini memandang komunis sebagai musuh negara. Segala sesuatu yang berbau ajaran ideologinya harus dimusnahkan. Organisasinya terlarang, sedang orangnya dikebiri hak-hak hidupnya. Bahkan untuk mengenyam pendidikan harus ada surat pernyataan terbebas darinya.
"Kita harus waspada terhadap bahaya laten komunis," begitu kira-kira nya bunyi doktrin yang masuk ke setiap anak bangsa.
Sedang di sisi lain, suara umat Islam dibungkam. Belum adanya kebebasan pers membuat banyak kasus pembantaian tak tahu rimbanya. Ada DOM di Aceh, kasus Tanjung Priok, Malari, dan masih banyak lagi baik karena (dianggap) sesat ataupun (dianggap) subversif.
Atas nama Demokrasi dan HAM, Reformasi 1998 menjadi tonggak awal kebebasan berpendapat dan berserikat bagi anak negeri. Beberapa harakah Islam pun bermunculan setelah sebelumnya dihadang dengan represif.
Melihat kenyataan bahwa Islam mulai bangkit meski masih dalam harakah yang berbeda-beda dan belum seiring sejalan, namun tetap membuat Zionist International gusar. Kecilnya peluang membasmi 'jamur yang tumbuh di musim hujan' karena HAM, memaksa kaum kufar memeras otak. Langkah yang paling tepat (menurut mereka) tentu dengan isu terorisme. Suatu perang opini yang paling mujarab untuk membuat umat Islam tersudut.
Itulah sebabnya, Indonesia menjadi target Zionist menghadang kebangkitan Islam dengan berkedok perang melawan terorisme. Apalagi aparat keamanan (Polri) ikut larut terpancing skenario mereka dengan mengawasi ceramah Ramadhan. Padahal justru seharusnya Polri berkoordinasi dan bekerjasama dengan para ustadz dan ormas Islam dalam menangani para teroris itu. Ada rasa waswas di hati umat dalam Ramadhan tahun ini. Wallahu a'lam bishawab.
Widodo
widodo@nhm.co.id