INILAH.COM, Jakarta - Pendiri situs Arrahmah.Com, Muhammad Jibril alias M Ricky Ardan, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka terkait bom di Mega Kuningan 17 Juli 2009. Peningkatan status hukum yang dilakukan setelah putera Abu Jibril tersebut ditangkap Densus 88 Antiteror, 24 Agustus 2009, ini membuktikan bahwa perannya cukup penting.
Informasi bahwa Muhammad Jibril belum mapan dan belum mampu menopang kehidupan pribadinya, seolah tak menggoyahkan kepolisian untuk menduganya sebagai penyandang dana terorisme di Mega Kuningan. Pernyataan bahwa situs Arrahmah.Com masih kekurangan dana dalam menjalankan bisnisnya juga tak menggoyahkan Densus 88 Antiteror menetapkan Jibril sebagai tersangka.
"Dari pengembangan penyidikan, kita tahu ada tersangka lainnya. Termasuk di dalamnya, Insya Allah, Mohamad Jibril," kata Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (28/8).
Penetapan tersangka Muhammad Jibril jelas mengejutkan, khususnya bagi keluarganya. Pasalnya, Jumat (28/8) pagi, keluarga Muhammad Jibril melalui pengacara Abu Jibril mengajukan gugatan praperadilan terhadap Polri, terkait penangkapan puteranya. "Praperadilan ini diajukan karena penangkapan Mohamad Jibril tidak prosedural," ujar koordinator tim kuasa hukum, Muhammad Hariyadi Nasution, di Jakarta, Jumat (28/8).
Nama Jibril mencuat setelah kepolisian melansirnya serbagai buron dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Disebutkan, Jibril terkait dengan penyandang dana aksi terorisme yang belakangan diketahui atas prakarasa Ibrohim, bekas karyawan Florits Chintya yang diperkerjakan di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta.
Penyebutan Jibril sebagai penyandang dana mengindikasikan pemuda yang baru berusia 30 tahun ini memiliki peran penting dan strategis dalam aksi teror di Mega Kuningan. Sebagaimana diketahui, biaya tahapan bom Mega Kuningan tidaklah murah. Mulai dari biaya akomodasi para pelaku di hotel yang acap dikunjungi ekspatriat hingga bahan-bahan peledakan.
Situasi ini akhirnya mengkaitkan Jibril dengan jaringan terroisme internasional, yang tak lain adalah al-Qaedah pimpinan Osama bin Laden. Sebagaimana ditulis oleh Muhammad Sodiq, seorang analis terorisme, M Jibril pernah berada di camp al-Ghuraba yang didirikan Hambali. Al-Ghuraba merupakan tempat memadu, merekrut, serta melatih calon-calon pimpinan Jamaah Islamiyah (JI). Di al-Ghuraba siapa pun akan ditempa soal pengetahuan relijius dan kemiliteran.
Disebutkan pula, sebagian besar dari 'anak-didik' al-Ghuraba dikirim ke Afghanistan untuk mendapat ilmu tambahan. Di samping itu mereka akan mendapat kehormatan bertemu dengan pemimpin al-Qaedah Osama bin Laden.
Disebutkan Sodiq, alumni al-Ghuraba di antaranya Gun Gun Rusman Gunawan (saudara Hambali), Abdul Rahim (putra Abubakar Ba'asyir), Rijal Yadri bin Jumari yang baru-baru ini ditangkap pemerintah Singapura, dan Muhammad Jibril Abdul Rahman (putra Mohamad Iqbal Abdurrahman/Abu Jibril). Sodiq tidak menyebutkan, apakah Jibril bertemu dengan Osama bin Laden atau tidak.
Namun Abu Jibril, ayah Muhammad Jibril, menegaskan tidak benar bahwa anaknya bertemu dengan Osama bin Laden. "Itu fitnah, kalau anak saya disebutkan polisi punya hubungan dengan Al Qaeda. Jumat siang ini saya akan bertemu intel Mabes Polri tersebut," ujar Abu Jibril usai salat Jumat di Masjid Al-Munawarroh, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Jumat (28/8).
Sementara paman Muhammad Jibril yang juga Ketua Lajna Tanfidzyah, Irvan S Awas, menegaskan bahwa jika Jibril memiliki kenalan dengan berbagai kalangan internasional, itu tidak perlu dipersoalkan, karena Jibril memang berprofesi sebagai seorang jurnalis. "Wartawan itu kenalannya internasional. Kalau ditanya ada hubungan dengan Inggris, Amerika, Rusia, Arab, Irak, itu pekerjaan wartawan dan tidak perlu dibingungkan," jelasnya. [P1]