INILAH.COM, Jakarta Produsen smartphone (ponsel pintar) BlackBerry boleh bersorak. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, pertumbuhan perusahaan Research In Motion (RIM) justru melesat tajam. Kehadiran BlackBerry Storm 2 pun diharapkan dapat semakin memantapkan posisinya. Wow!
Sebelum akhir tahun 2009, RIM dikabarkan akan mengeluarkan generasi kedua Storm. Inggris akan disambangi Storm untuk pertama kalinya pada bulan Oktober melalui jaringan Vodafone. Sedangkan di Amerika Serikat, handset ini baru akan meluncur awal November.
Generasi baru BlackBerry ini memang menawarkan banyak keunggulan. Perbedaan mendasar Storm 2 dengan generasi sebelumnya terletak pada adanya fasilitas yang mendukung Wi-F, kamera dengan resolusi 5 megapiksel, dan layar yang diupgrade. Selain sejumlah perbaikan lain pada fitur SurePress versi sebelumnya.
Di AS, Storm versi terdahulu telah membuktikan ketangguhannya sebagai pesaing iPhone. Berdasarkan survey NPD Group, perusahaan periset pasar industri nirkabel, selama kuartal pertama 2009 lalu Storm menempati posisi ketiga penjualan terbaik di AS. Kehadiran BlackBerry Storm 2 ini pun diperkirakan akan semakin menggerus dominasi iPhone, yang telah tergeser oleh BlackBerry Curve pada kategori penjualan smartphone.
Ekspansi RIM ini dinilai cukup menakjubkan. Salah satunya dengan dominasi BlackBerry di AS. Di negara adidaya ini, BlackBerry berhasil menguasai 56% dari US$ 12 miliar pasar smartphone. Ini berarti, tiga dari lima ponsel yang terjual adalah BlackBerry.
BlackBerry curve tercatat sebagai smartphone dengan penjualan terbesar di AS tahun ini. "Pasar smartphone diharapkan melonjak dua kali lipat dalam jangka waktu lima tahun ke depan," ujar juru bicara RIM.
Menurut hasil riset NPD Group, penjualan BlackBerry Curve buatan RIM mampu terdongkrak menyusul promosi agresif 'beli satu gratis satu' yang digelar Verizon Wireless. Selain itu, Curve juga semakin populer dan terjangkau karena ketersediaannya yang lebih luas di empat operator seluler utama di AS.
Produk itu langsung menjadi smartphone konsumer yang paling laris di AS di kuartal pertama 2009, membuktikan ketangguhannya sebagai pesaing iPhone. Market share RIM di pasar smartphone konsumer juga naik 15% ke sekitar 50% dari seluruh pasar smartphone. Padahal, dibanding kuartal sebelumnya, market share Apple dan Palm turun masing-masing 10%.
Lihat saja kinerja RIM yang selama ini memuaskan dengan peningkatan cukup signifikan. Dalam sepuluh tahun terakhir, perusahaan yang bermarkas di Kanada ini berhasil menjual 65 juta unit smartphone BlackBerry kepada 28,5 juta pelanggannya di seluruh dunia.
Bahkan, pendapatan per lembar saham rata-rata selama tiga tahun terakhir, naik 84% dengan tingkat pertumbuhan pendapatan 77%. Kendati pasar saham pada 2008 lalu rontok, total return saham RIM masih mencapai 45% per tahun.
RIM juga telah meningkatkan kapitalisasi nilainya di pasar saham menjadi US$ 96 juta dari US$ 42 juta. Alhasil, pendiri RIM, Balsille dan Lazaridis saat ini masing-masing mengantongi 6% saham, atau sesuai nilai sahamnya sebesar US$ 2,5 miliar.
Tak heran, majalah bisnis bergengsi, Fortune, menobatkan RIM sebagai perusahaan dengan kinerja terpesat tahun ini, dari jajaran 100 perusahaan lainnya. RIM berhasil unggul dan mengalahkan rival utama, yaitu Apple, yang hanya menempati urutan 39, serta Google yang jauh di posisi 68. Meski penjualan dan nilai pasar perusahaan ini sebenarnya tiga kali lipat lebih besar dibandingkan RIM.
Beberapa pertimbangan digunakan Fortune untuk menentukan peringkat ini, seperti laba bersih, dana investasi, dan tingkat pengembalian investasi selama tiga tahun terakhir. Daftar Fortune tahun ini memang berbeda dari tahun 2008, karena turut menyertakan perusahaan yang bukan berasal dari AS.
Setelah RIM, Sigma Design menempati posisi runner up. Pembuat chip komputer yang bermarkas di Silicon Valley ini bagian dari produksi cakram digital berupa blue ray DVD. Pendapatan Sigma terpantau melonjak hingga 104% sejak 2007. Sedangkan di urutan tiga adalah perusahaan internet asal Cina, Sohu.com. Menurut Fortune, perusahaan asal Cina meraup untung dari kinerja ekonomi negara tirai bambu yang masih kuat, di tengah resesi. [P1]