INILAH.COM, Jakarta - Kepolisian tidak ingin terlihat seperti pahlawan dalam pemberantasan terorisme. Saat melakukan penggerebekan di Temanggung, Jawa Tengah dan Jatiasih, Bekasi, polisi tidak mengundang media untuk meliput.
"Jadi, tidak benar kami ajak wartawan agar polisi terlihat superman," kata Kapolri Jend Pol Bambang Hendarso Danuri di Gedung DPR, Jakarta, Senin (31/8).
Dilanjutkan Kapolri, pihaknya tidak pernah menerjunkan 600 personil dalam pengerebekan di Temanggung, Jawa Tengah, Jumat 7 Agustus 2009. Faktanya hanya ada 15 orang personil. Itu pun, lanjutnya, tanpa sepengetahuan kapolda setempat dan seluruh kapolda yang ada.
Namun, ujar Kapolri, ada kejadian saat penangkapan di Temanggung itu, anggota polisi diteriaki dan dikepung oleh warga. Terpaksa akhirnya, harus menelpon untuk meminta bantuan Polda Jateng.
"Diwaktu penangkapan dan pemeriksaan itulah mungkin ada wartawan yang mengetahui. Namun, dari pemeriksaan memang diakui di rumah yang berada di Temanggung ada 4 orang yakni Noordin, Bahridin, Tono pengawal noordin, dan Ibrohim. Jadi, polisi tidak pernah memberitahu kalau kami akan menangkap Noordin," ungkapnya.
Selain itu, cerita Kapolri, setelah beralih dari Temanggung ke Jatiasih. Dirinya kaget sudah wartawan yang datang. Tidak benar, operasi berlangsung selama 17 jam. Selain itu, jumlah peluru yang diarahkan langsung ke target cuma dua buah.
"Operasi 17 jam tidak benar,kami baru operasi jam 7 pagi. Sementara jumlah peluru yang diarahkan langsung ke target cuma dua buah. Itu pun mantul,tembakan yang lain hanya keatas," pugnkasnya. [bar]