INILAH.COM, Jakarta - Bagaimana ciuman itu terjadi? Silakan pembaca menjawab. Sementara manusia menikmati aktifitas itu, para pakar tertarik menelusuri misteri reaksi tubuh. Dan yang paling penting adalah menjawab pertanyaan yang sampai saat ini masih menggantung, yakni kenapa manusia berciuman?
Penjelasan ilmiah menyebutkan selama bertautan bibir, terjadi 34 kontraksi otot wajah, leher, kepala, serta tentu saja mulut dan bibir. Pada saat yang bersamaan
sel syarat sibuk mengirimkan sinyal ke otak, lalu kemudian darah mengalir ke bibir dan badan menjadi lebih hangat.
Produksi kelenjar ludah meningkat, kadar testosteron dalam darah naik dan kimia alami tubuh dalam otak yang berfungsi menimbulkan rasa senang seperti endophin dan oxytocin, dilepaskan.
Selama berciuman detak jantung meningkat antara 70-120, kalori yang terbakar sebanyak 6 kalori per satu menit. Bandingkan dengan duduk menonton tv atau
membaca yang hanya membakar satu kalori per menit.
Berciuman dapat menimbulkan lelah, itulah salah satu alasan merek kosmetik Max Factor pada 1930 menghentikan produksi lipstik tahan lama. Karena konon akan mempercepat munculnya lelah dan bosan.
Pengamatan para pakar itupun menyodorkan fakta bahwa saat berciuman, pihak yang memegang kendali akan selalu memiringkan kepala ke arah kanan.
Spekulasi para pakar psikologi (pengaruh Freud) mengatakan ciuman meniru aktifitas menghisap susu. Pada hewan, saling mengendus dan menggosokan hidung
adalah bentuk lain dari ciuman.
Sekitar 100 tahun lalu pakar antropologi menyebutkan penduduk Madagascar, sebagian Polinesia dan Afrika serta beberapa suku asli di Finlandia, tidak berciuman. Namun sekarang, bisa dikatakan seluruh manusia melakukan ciuman sebagai ungkapan hasrat seksual.
Pada saat berciuman terjadi perpindahan jutaan bakteri yang menjadi penyebab utama muncul demam dan flu.
Namun umumnya pasangan yang dimabuk cinta paham benar menjaga kebersihan. Lagipula, pada saat beciuman, otak melepaskan kimia alami yang menimbulkan perasaan bahagia, inilah yang menyebabkan tubuh lebih kebal
terhadap penyakit. [ES/L1]