INILAH.COM, Jakarta Paruh pertama akhir pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan di zona negatif, seiring pergerakan bursa regional yang bervariasi. Sektor tambang memimpin koreksi bursa.
Pada perdagangan Jumat (4/9) sesi siang, IHSG melemah 0,13% ke level 2319,15. Sedangkan indeks saham-saham unggulan LQ 45 turun 0,05% ke level 451,01. Seluruh perdagangan mencatat volume transaksi 2,022 miliar saham, senilai Rp 1,266 triliun dengan frekuensi 38.098 kali. Sebanyak 57 saham naik, 107 turun, dan 47 saham stagnan.
Hampir semua sektor terpantau melemah, dipimpin sektor tambang yang jatuh 0,8%. Kemudian konsumer 0,5%, properti 0,31%, perdagangan dan industri dasar 0,2%, infrastruktur 0,05% dan manufaktur merosot 0,01%. Sedangkan tiga sektor lainnya masih menguat seperti aneka industri, finansial dan perkebunan.
Jatuhnya saham sektor tambang terjadi paska penguatannya yang signifikan pada perdagangan kemarin. Hal ini didukung turunnya harga minyak mentah ke level US$ 67,96 per barel akibat data penerima tunjangan pengangguran (initial jobless claim) AS yang meningkat. Namun, penurunan harga minyak mentah tertahan akibat naiknya sektor jasa dan penjualan eceran AS.
Purwoko Sartono, analis dari Panin Sekuritas mengatakan, IHSG di sesi pertama bergerak variatif karena minimnya sentimen di akhir pekan. Ia pun memperkirakan IHSG pada sesi dua ini berpeluang tertekan dan berpotensi ditutup negatif.
Indeks akan bergerak di kisaran support dan resistance yang tipis antara 2.317 hingga 2.333, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (4/9).
Para pelaku pasar mulai melepas sebagian portfolionya, seiring fenomena menjelang akhir pekan di mana pelaku pasar tidak terlalu agresif bertransaksi di bursa. Apalagi, pada Agustus-September merupakan bulan yang sepi transaksi, ujarnya.
Sementara itu, di AS sendiri masih belum ada sinyal untuk rally kembali. Investor wait and see mencermati data makro ekonomi AS yaitu unemployment data yang diekspektasikan negatif oleh pasar. Artinya, data penganggurannya meningkat.
Namun, jika melihat data-data sebelumnya, makro ekonomi di AS tidak selalu secara langsung diterjemahkan dengan apa yang terjadi pada pergerakan indeks. Karena itulah saat ini pun pergerakannya bervariasi, imbuhnya.
Kendati pergerakan Dow Jones positif semalam, menyusul keluarnya data sektor jasa di AS dan Initial Jobless Claim. Namun, volume perdagangan Dow masih rendah. Ia menilai, rebound-nya Dow karena adanya beberapa pelaku pasar yang masih minat beli. Namun pergerakan secara keseluruhan masih sama seperti di Indonesia yang mixed hari ini, paparnya.
Purwoko menyarankan investor pada sesi kedua lebih baik dimanfaatkan untuk mengamankan keuntungan terlebih dahulu. Pasalnya, level 2.324 merupakan level trading dan karena itu hanya cocok untuk trader dan bukan investor jangka panjang.
Untuk itu, pada saat kondisi market di mana saham-saham bluechips sudah cenderung mendatar dan menunggu koreksi, bagi trader disarankan untuk melirik saham-saham third liner dan second liner yang memiliki story tertentu.
Saham-saham pilihannya adalah PT Indofoof (INDF), PT Bank Himpunan Saudara (SDRA), PT Suparma (SPMA), dan PT Sentul City (BKSL). Purwoko menilai saham-saham itu cocok untuk speculative buy. Itu cocok untuk trading. Tapi, bagi investor yang bukan trader lebih lebih baik merealisasikan keuntungan di sesi dua hari ini, pungkasnya.
Di sisi lain, Indo Premier Securities mengatakan, beberapa sentimen positif berpotensi mengangkat bursa Asia menjelang tutup pekan ini. Namun penguatan akan terbatas karena pasar menantikan data pengangguran Amerika yang akan diumumkan nanti malam. Secara teknikal, IHSG berpotensi bergerak dalam kisaran 2.272-2.345, jelasnya.
Beberapa saham yang direkomendasikan adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), bank Mandiri (BMRI), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS). Saham-saham ini masih berpeluang menguat, ujarnya.
Siang ini, emiten-emiten yang mengalami penurunan adalah PT Medco Energi Internasional (MEDC) melemah Rp 100 ke Rp 2.825, PT Bumi Resources (BUMI) terkoreksi Rp 75 ke posisi Rp 2.825, PT Indofood (INDF) turun Rp 75 menjadi Rp 2.700, dan PT International Nickel (INCO) turun Rp 75 ke Rp 4.225 dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 50 menjadi Rp 7.150. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !