INILAH.COM, Jakarta - Pergerakan IHSG pada pekan pertama September ini mengalami penurunan volume karena minimnya sentimen positif saat terjadi tekanan negatif dari bursa China. IHSG semakin menjauh dari level 2.400 bahkan mendekati level 2.200.
Hal ini dikatakan analis saham First Asia Capital, Bayu Aji kepada INILAH.COM kemarin. "Pekan ini pergerakan IHSG cukup tertekan karena volume perdagangan sangat kecil karena tidak adanya sentimen positif yang dapat menangkat indeks," katanya.
Harga minyak dunia yang menjadi salah satu penopang penguatan indeks termasuk IHSG masih terus terkoreksi dan bergerak di kisaran US$ 65 - 70 per barel. Penurunan harga ini karena pernyataan dari pemerintah AS dengan masih cukupnya cadangan minyak.
Faktor eksternal yang lain adalah tekanan negatif yang terjadi adalah menurunnya bursa China karena kebijakan pembatasan kredit untuk pasar modal. Sebab likuiditas lebih diprioritaskan untuk menggerakan sektor riil. Walaupun kemudian mengalami rebound karena rencana pemerintah untuk membeli obligasi IMF mencapai US$ 500 miliar.
Hal yang sama juga dikatakan Kepala Riset Batavia Prospesindo Sekuritas, Suherman Santikno kepada INILAH.COM kemarin. "Saat ini investor asing sudah secara bertahap melakukan net sell," katanya.
Investor asing menilai saham di Indonesia sudah sangat mahal dengan mencapai 15- 20 kali dari laba industri 2009. Mereka saat ini memilih memburu obligasi pemerintah AS dengan tenor kurang dari 1 tahun. Obligasi ini diyakini paling aman dan sangat menarik karena menguntungkan bagi investor asing. [hid/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !