INILAH.COM, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mampu mempertahankan penguatannya. Setelah pekan kemarin naik 1,86%, indeks sepanjang pekan ini harus terkoreksi sebesar 2,3%, terimbas merosotnya bursa saham di China.
Pada Senin (31/8), IHSG terpaksa turun 35 poin ke level 2.341. Ekspektasi pasar untuk melihat IHSG menembus level psikologis 2.400 kembali sirna, setelah anjloknya indeks bursa Shanghai memicu aksi jual saham di bursa regional.
Koreksi bursa saham China tampaknya terlalu signifikan untuk diabaikan. Sebagai negara dengan perekonomian ketiga terbesar di dunia, maka setiap indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi Negeri Panda itu akan berimbas besar pada perekonomian global, terutama dengan melemahnya permintaan hasil tambang dan energi.
Transaksi secara keseluruhan berjalan sangat ramai, didominasi aksi jual. Dari sekitar 260 saham yang aktif ditransaksikan, hanya 39 saham yang naik, 177 turun, dan 44 saham stagnan. Koreksi bursa dimotori aksi jual investor terhadap saham-saham kapitalisasi besar, seperti TLKM, BBRI, BBCA, INCO, BUMI, ANTM, dan INDF.
Rilisnya laporan keuangan semester pertama 2009 ADRO, PGAS, dan BBRI yang impresif, gagal mengangkat sentimen pasar. Sementara itu lonjakan harga saham HMSP hingga batas auto rejection menyusul rumor go private tidak berimbas lagi, sejak dikeluarkan dari perhitungan indeks.
IHSG pada keesokan harinya terus melemah 14,623 poin dan ditutup di posisi 2.326,914. Indeks bergerak anomali di tengah penguatan bursa kawasan. Transaksi secara keseluruhan berjalan sangat ramai didominasi aksi jual. Sekitar 250 saham yang aktif ditransaksikan, sebanyak 67 saham mengalami kenaikan, 109 saham, turun dan 74 saham stagnan.
Pemerintah China berupaya menahan laju ekspansi ekonomi dengan fokus pada sektor keuangan dan sektor riil. Hal ini tercermin dari anjloknya kucuran kredit pada Juli-Agustus. Namun, China pun masih mentargetkan pertumbuhan ekonomi 2009 tumbuh sekitar 8%.
Tekanan jual masih berlanjut, terutama dari sektor pertambangan dan perkebunan, menyusul turunnya harga minyak dunia yang menembus level US$ 70 per barel. Saham-saham yang paling banyak dilepas dan menjadi penggerak turunnya indeks adalah AALI, LSIP, BUMI, SGRO, INDY, ITMG, MEDC, PTBA, INTP, UNTR, HEXA, dan BUMI.
Pengumuman BPS akan figur inflasi Agustus yang sebesar 0,56% atau 2,75% untuk inflasi tahunan hanya menguntungkan ASII, BBCA, dan AUTO, yang menguat sehingga menahan indeks dari potensi koreksi yang lebih besar.
Koreksi bursa domestik tampaknya belum berakhir. IHSG pada Rabu (2/9) masih melanjutkan pelemahan, dengan turun tajam 40,989 poin ke posisi 2.285,925, memupuskan harapan akan berlanjutnya rally jangka pendek. Pelemahan tersebut akibat aksi jual yang dilakukan investor terhadap mayoritas saham unggulan.
Penguatan signifikan saham INDF dan GGRM tak mampu meredam besarnya tekanan jual. Koreksi beruntun saham favorit BUMI merongrong rasa percaya diri investor, terutama atas saham sejenis seperti ITMG, PTBA, bahkan ADRO yang baru saja merilis kinerja paruh pertama 2009 yang mengesankan.
Sementara IHSG tidak dapat menghindar dari koreksi, kendati bursa regional tidak terlalu agresif merespon penurunan tajam indeks Dow Jones, setelah bad debt diperkirakan meningkat.
Aksi jual kian marak, terutama terhadap saham-saham komoditas, menyusul kekhawatiran pergerakan harga minyak dunia yang anjlok ke level US$ 68.05 per barel. Tiga hedge-fund manager yang berposisi sebagai bearish investor menyalahkan Goldman Sachs dan Morgan Stanley yang sebelumnya menyatakan ekonomi mulai pulih.
Setelah harga-harga tertekan selama tiga hari terakhir, pada Kamis (3/9) IHSG akhirnya berhasil rebound +1.59% (36,32 poin) di level 2.322,25 dengan total nilai transaksi Rp 4,07 triliun. Kenaikan ini termasuk yang terbesar setelah China di regional Asia kemarin.
Para pelaku pasar kembali memburu saham-saham yang relatif 'murah' pasca anjloknya IHSG beberapa sesi terakhir. Penguatan IHSG terutama ditopang oleh saham BUMI, TLKM, INDF, PGAS, dan BMRI.
Saham-saham komoditas menjadi prioritas pembelian menyusul rebound harga minyak mentah dan komoditas utama lainnya. Sementara itu saham perbankan cenderung stagnan setelah Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di 6,5%. Hal ini dilakukan atas adanya ancaman inflasi beberapa bulan ke depan.
Setelah bergerak volatile, IHSG Jumat (4/9) akhir pekan ini ditutup flat, dengan naik tipis 0,02% ke level 2.322,736. Merosotnya saham grup Bakrie menekan pergerakan bursa. Namun, di lain sisi, penguatan saham grup Astra menopang IHSG. Saham grup Bakrie yang terpantau turun, cukup aktif diperdagangkan dan berkontribusi besar pada pelemahan bursa.
Pemerintah China akhirnya menyerah setelah menyaksikan indeks bursa saham mereka turun lebih dari 23% dalam sebulan terakhir ini. Regulator di sana memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih akomodatif untuk menyelamatkan bursa mereka menjadi lebih stabil dan sehat. [P1]