INILAH.COM, Jenewa - Perlahan tapi pasti, flu babi merenggut hampir 3 ribu jiwa di seluruh dunia. Namun flu A yang mematikan ini tidak mengakibatkan penyakit yang lebih parah daripada sebelumnya, dan virus H1N1 ini tidak bermutasi.
"Virus ini telah menyebabkan 2.837 orang di seluruh dunia meninggal," kata Jubir WHO Gregory Hartl di Jenewa, Swiss, Sabtu (5/9).
Dituturkan dia, kasus flu babi yang telah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium setidaknya terjadi pada 254.000 manusia. Jumlah kasus tersebut masih jauh di bawah jumlah sebenarnya.
"Karena virus menyebar begitu luas di berbagai belahan dunia ini, sayangnya memang diperkirakan bahwa akan ada korban-korban meninggal lainnya karena meningkatnya kasus dan kematian akibat flu ini," ujarnya.
Meski demikian, lanjut Hartl, tidak ada indikasi virus tersebut bermutasi atau berubah bentuknya. Data terakhir menyebutkan, wilayah tropis di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, yaitu India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Sri Lanka, dan Indonesia masih mengalami penularan flu secara geografis.
Banyak negara di kawasan-kawasan tersebut melaporkan adanya peningkatan atau masih tingginya kasus penyakit yang berhubungan dengan pernafasan. Beberapa negara, termasuk Thailand dan Brunei Darussalam, sudah mulai melaporkan pengurangan kasus tersebut.
Banyak negara bersuhu sedang di bagian selatan seperti Chile, Argentina, Australia, dan Selandia Baru, telah melewati puncak berjangkitnya flu pada musim dingin. Sementara kasus flu itu masih terus terjadi di Afrika Selatan serta Australia bagian barat dan selatan. Di Kanada dan AS secara umum kasus flu masih tergolong rendah, namun peningkatan kasus sedang terjadi di wilayah AS bagian selatan. [*/sss]