INILAH.COM, Jakarta - Popularitas parpol Islam dalam pelaksanaan dua kali pemilu kian menurun. Bahkan bukan tidak mungkin pada Pemilu 2014 mendatang akan kian karam.
"Keberadaan parpol Islam akan tamat di pemilu 2014. Peluang PPP, PKB dan parpol Islam lainnya makin kecil bisa lolos ke Senayan, apalagi kalau parliamentary thrashold (PT) dinaikkan menjadi 5 persen," tutur Pengamat politik LIPI, Prof Syamsudin Haris.
Hal itu dia kemudakakn dalam acara bedah buku 'Krisis Ideologi Parpol Islam' karya Arif Mudatsir Mandan, di Jakarta, Senin (7/9).
Ia mengatakan, namun bukan berarti parpol Islam hilang tanpa bekas. Karena, bisa saja parpol Islam tersebut bertahan. Hanya saja, lanjut Haris, keberadaan parpol Islam tidak akan jauh berubah dari seperti yang sekarang ini.
"Bisa saja bertahan, tapi ya segitu-segitu saja. Di sisi lain, masih bisa dipertahankan hingga pemilu 2014. Asalkan ada evaluasi dan reaktualisasi dari pemimpinnya, baik tingkat daerah maupun tingkat nasional," imbuhya.
sekarang ini, menurut dia, Islam bukan lagi hanya milik partai politik Islam. Karena parpol yang berbasiskan sekuler pun sudah memiliki sayap Islamnya. Seperti PDIP membuat Baitul Muslimin Islam (BMI) dan Partai Demokrat dengan Majelis Dzikir.
Sehingga perlu ada pendekatan lain yang harus dilakukan parpol Islam untuk mempertahankan posisinya. "PPP ke depan harus lebih inklusif dan moderen serta menjadi partai Islam nasional, yang perjuangannya jangan hanya membentuk negara Islam tetapi negara Pancasila yang Islami," papar Haris.
Yang jelas, katanya, masalah PPP dalam dua pemilu lalu tidak hanya soal ideologi. Namun juga soal disorientasi. "Saya pikir partai Islam akan tetap dibutuhkan walaupun suaranya tidak akan lebih baik. Ini merupakan tantangan yang tidak mudah bagi partai Islam," ungkap Haris. [*/jib]