inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Tarawih, Perlawanan Perempuan Pakistan

Headline
Istimewa
Oleh: Nusantara HK Mulkan
Selasa, 8 September 2009 | 15:14 WIB
INILAH.COM, Karachi Ibadah di bulan Ramadhan tentu sangat dianjurkan. Sehingga jika suatu ibadah dianggap tabu bagi jenis kelamin tertentu, jelas akan memicu reaksi. Hal ini membuat kaum perempuan di Pakistan melakukan 'perlawanan'. Cara mereka 'protes' pun unik, yaitu dengan shalat tarawih berjemaah di masjid. Kok gitu?

Ramadhan 1430 Hijriyah sepertinya menandai pendobrakan perempuan Pakistan atas dominasi pria di tempat ibadah. Sejumlah perempuan, terutama yang berasal dari kalangan terdidik, kini semakin banyak yang mengikuti shalat tarawih berjamaah di masjid. Padahal, kegiatan tarawih bagi perempuan di masjid sebelumnya dianggap tabu.

"Jelas ada perbedaan besar antara melaksanakan shalat tarawih sendiri di rumah dan berjemaah dengan ratusan perempuan lainnya di masjid," kata Begum Salma Ahmed, seorang warga Karachi, seperti dilansir Islamonline.Net.

Ketua Perhimpunan Perempuan Pengusaha Pakistan (Association of Women Enterprises - PAWE) ini telah pergi ke masjid bersama suami dan anak-anaknya dalam lima tahun terakhir. Di masjid, tentu saja dia bergabung dengan barisan jemaah perempuan.

"Dulu saya selalu merasa bahwa kaum perempuan ditinggalkan. Namun kini kami adalah bagian dari semuanya. Sebab, tidak ada lagi tembok pembatas di antara kami (perempuan dan pria)," paparnya.

Salma hanyalah satu di antara ribuan perempuan dari kalangan sosial kelas atas yang kini memenuhi masjid-masjid di Pakistan untuk melaksanakan shalat tarawih. 'Agenda' ini menjadi kesempatan bagi mereka sebagai ajang sosial dan kegiatan amal.

Apalagi, selama Ramadhan, setiap Muslim memang dianjurkan banyak beribadah. "Shalat tarawih di masjid telah memberi kesempatan sesama perempuan untuk berkumpul. Baik dari lingkungan kami sendiri maupun dari tempat lain. Hal ini mustahil kami lakukan di bulan selain Ramadhan. Sebab jadwal kami sangat padat," papar Salma Ahmed.

Selepas tarawih, para jemaah perempuan biasa duduk bersama dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka kemudian membahas berbagai isu. Mulai dari masalah agama, pendidikan, pernikahan, bahkan sampai masalah politik.

Tren ini pun sepertinya diikuti oleh banyak kaum perempuan dari kalangan bergengsi di Pakistan. Bahkan, bukan hanya di masjid. Sejumlah perempuan juga menggelar salat tarawih berjemaah secara bergilir dari rumah ke rumah di antara komunitas mereka.

"Hingga empat tahun lalu, saya selalu menjadi satu-satunya perempuan di lingkungan rumah saya yang pergi shalat tarawih di rumah salah satu kerabat. Saat itu baru diikuti 12-15 jemaah perempuan. Tapi kini pengikutnya mencapai 200 orang," papar Muneeza Saeed, seorang ibu dari tiga orang anak.

Tarawih berjemaah itu, kata dia, meningkatkan spiritualitas Ramadhan yang tidak mereka dapatkan jika melaksanakan tarawih sendiri di rumah. Sebab, di sana mereka bukan sekadar melaksanakan ritual, tapi juga membangun jaringan sosial yang kuat.

"Kami mengumpulkan sedekah dan donasi dari jemaah yang ikut tarawih secara rutin. Kami menggunakannya untuk pendidikan, kesehatan, dan membantu beaya pernikahan perempuan yang miskin," jelas Muneeza.

Tren ini tentu saja sedikit demi sedikit telah menghilangkan sekat dan tabu yang selama ini berlaku secara tradisional di Pakistan. Yakni, bahwa seorang perempuan tidak seharusnya shalat di masjid, tapi di rumah.

Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Salma Ahmed mengaitkan peningkatan jumlah perempuan yang tarawih berjemaah ini dengan terjadinya perubahan sosial di negara-negara Asia berpenduduk mayoritas Muslim. "Di lingkungan elit, tabu atas perempuan shalat di masjid telah sepenuhnya hilang. Namun memang, pemikiran bahwa itu adalah sesuatu yang tabu masih ada di kalangan menengah ke bawah," jelasnya.

Sementara Muneeza Saeed, meyakini shalat tarawih berjamaah telah membantu mengubah pemikiran yang dulu ia miliki tentang status perempuan dalam Islam. "Setiap usai shalat tarawih ada sesi tafsir. Di sana para intelektual menjelaskan pentingnya perempuan yang terpelajar dan religius dalam sebuah masyarakat Muslim," paparnya.

Banyak juga yang mengaitkan peningkatan jumlah perempuan dari kalangan menengah ke atas pada jemaah tarawih di masjid dengan Quran Network milik Dr Farhat Hashmi. Kajian tafsir Al-Quran yang diselenggarakanya dihadiri oleh banyak kaum perempuan, dan dianggap telah memberikan dampak besar untuk mengubah pandangan yang ada selama ini atas sikap Islam terhadap perempuan.

Dia meyakini shalat tarawih berjamaah telah memainkan peran penting bagi perempuan Pakistan. "Kaum perempuan di lingkungan elit cepat sekali mendalami agama. Padahal, perempuan Pakistan biasanya, tidak tahu tentang hak-hak dan tanggung jawab mereka dalam Islam," jelas Hashmi. Itu semua merupakan hasil 'perlawanan' kaum perempuan Pakistan. [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.